MM.COM, AMBON — Suasana Sekolah SMP Negeri 4 Ambon mendadak hening dan penuh keharuan. Tak ada suara bising dari ratusan siswa kelas VII maupun pengurus OSIS yang hadir. Semua mata tertuju ke depan panggung, menatap sosok nomor satu di Kota Ambon, Wali Kota “Bodewin M. Wattimena,” yang hadir memenuhi undangan kegiatan kokurikuler bertema “Aku dan Prestasiku”.
Di hadapan para generasi muda yang kelak menjadi calon pemimpin masa depan, “Bodewin Wattimena” tidak hanya berdiri sebagai pejabat pemerintahan. Ia mengurai kembali rekam jejak masa kecilnya yang sarat akan keringat, penderitaan, dan perjuangan hidup yang teramat perih. Sebuah perjalanan tak biasa dari seorang anak petani miskin hingga akhirnya memegang tampuk kepemimpinan di Kota Berdikari ini.
Sepatu Rusak, Jualan Kue, hingga Tak Memiliki Buku Cetak.
Lahir pada 4 Mei 1975 di kawasan pegunungan Negeri Urimessing, Kampung Siwang, Bodewin tumbuh di keluarga yang sangat sederhana. Ia mengisahkan bagaimana kecilnya ia harus menempuh jarak berkilometer jalan kaki setiap pukul setengah lima pagi. Dalam kegelapan, obor menjadi satu-satunya penerang jalan bebatuan dan perbukitan yang ia tempuh untuk menuntut ilmu di SD Kristen Seri.
“Hari ini anak-anak diantar dengan motor dan mobil. Dulu, saya berjalan kaki 3 sampai 4 kilometer menembus kegelapan dengan obor. Bahkan saya tidak mandi dari rumah, nanti mandinya di kali di Seri bawah,” mengenang Bodewin dengan nada suara yang bergetar penuh keharuan.
Tak cukup di situ, penderitaan ekonomi melingkupi setiap jengkal tumbuh kembangnya. Demi menyambung hidup dan membiayai sekolah dari SD hingga SMA, ia tidak malu berjualan kue dan es di area barak karyawan kawasan Batu gong sejak subuh sebelum berangkat sekolah. Baju seragamnya baru dikenakan usai dagangannya, basah karena keringat, Bahkan momen pahit di bangku sekolah ketika ia harus dikeluarkan dari kelas hanya karena orang tuanya tak mampu membeli buku cetak, kini menjadi kenangan membekas yang justru memandu jalan hidupnya.
“Perjalanan hidup dari susah itu membentuk karakter dan mental pejuang. Karakter petarung. Saya sering dikeluarkan dari kelas karena tidak punya buku cetak. Namun hal itu tak memadamkan cita-cita,” tuturnya mendalam.
Pesan Kepala Sekolah dan Keajaiban Doa Ibu.
Kisah dramatis berlanjut saat Bodewin mengenang ucapan kepala sekolahnya semasa SD. Ketika pembagian rapor di kelas 5, sang kepala sekolah berseloroh bahwa ia bosan memberikan hadiah juara pertama terus-menerus kepada Bodewin. Namun di balik seloroh itu, terselip ramalan dan doa tulus: “Siapa tahu besok-besok anak ini jadi Wali Kota Ambon.”
Kalimat itu melekat kuat di benak sang ibu. Selama puluhan tahun, doa sang ibu tak pernah putus memohon agar harapan sang kepala sekolah dikabulkan Sang Pencipta.
Berkat doa, keteguhan hati, serta kedisiplinan yang ditempa sejak dini, jalan itu terbuka hingga ia berhasil menembus STPDN tahun 1993 dengan berbagai jenjang karier ASNnya hingga akhirnya dilantik menahkodai Kota Ambon.
Menanamkan Karakter dan Takut akan Tuhan.
Kepada seluruh siswa SMP Negeri 4 Ambon, Wali Kota menegaskan bahwa kecerdasan intelektual hanyalah sebagian kecil dari kunci sukses. Yang paling utama dan tidak boleh goyah adalah pembentukan karakter, rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta rasa takut akan Tuhan.
“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya lebih buruk dari mereka. Walau seorang ayah bekerja mencopet, ia tak akan pernah mau anaknya jadi pencopet. Dengarkan nasihat orang tua, hormati guru, dan jadilah pribadi yang takut akan Tuhan,” pesan Bodewin penuh penekanan.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 4 Ambon, “Kustanto S.Pd., M.Pd.,” menyampaikan apresiasi mendalam atas kesediaan Wali Kota Ambon, Sekretaris Kota Ambon “Robby Sapulette” serta jajaran OPD Kota Ambon yang berkenan hadir membagikan cerita inspiratif bagi para siswa.
Ia berharap kisah perjuangan hidup Wali Kota Ambon ini memberi semangat seluruh generasi muda di Kota Ambon untuk tidak pernah menyerah pada keadaan, menjauhi bahaya narkoba, “anti-bullying”, serta terus menorehkan prestasi demi menyongsong Indonesia Emas 2045.(LD)








Komentar