oleh

SMA Pertiwi Ambon Butuh Dukungan, Krisis Siswa Baru dan Fasilitas Rusak Hambat Proses Belajar

MANGGUREBEMAJU.COM, SMA Pertiwi Ambon hingga kini masih menghadapi tantangan serius dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026. Berdasarkan data terakhir, jumlah siswa baru yang terdaftar secara riil hanya 27 orang, dari total kuota yang disediakan sebanyak 4 rombongan belajar (rombel).

Dengan angka tersebut, bahkan satu rombel pun belum dapat terpenuhi secara optimal, hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Pertiwi Ambon Julianus. J. Kolaborasi, SE. M.Pd yang didampingi Ketua Panitia Penerimaan Dra. Selfia Huwae, M.Pd. yang ditemui di ruang kerja kepsek Jumat 11 Juli 2025 siang tadi.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sistem PPDB yang masih terbuka menyebabkan sebagian calon siswa mendaftar di beberapa sekolah sekaligus. Akibatnya, sejumlah siswa yang awalnya terdata di SMA Pertiwi justru memilih sekolah lain setelah dinyatakan lulus di tempat tersebut. Selain itu, ada juga siswa yang mengalami kendala administrasi sehingga belum bisa diproses masuk.

Sementara itu, SMA Pertiwi Ambon memiliki total 33 tenaga pendidik dan kependidikan, yang terdiri dari 27 guru dan pegawai dari yayasan, serta 6 guru berstatus PNS.

Dari sisi tenaga pengajar, rasio guru terhadap rombel sebenarnya masih memadai untuk mendukung proses pembelajaran. Saat ini, struktur kelas terdiri dari satu rombel kelas X, dua rombel kelas XI (karena proses penjurusan), dan dua rombel kelas XII, total 5 rombel aktif.

Namun, kendala utama tetap pada kurangnya jumlah siswa baru yang mendaftar. Pihak sekolah berharap agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku dapat memberikan perhatian dan solusi nyata, terutama dalam upaya pemerataan distribusi siswa ke sekolah-sekolah yang belum mencapai kuota, termasuk SMA Pertiwi.

Selain permasalahan penerimaan siswa baru, kondisi bangunan fisik sekolah juga turut memprihatinkan. Sudah bertahun-tahun tidak dilakukan renovasi karena status sekolah swasta dan keterbatasan anggaran. Usulan perbaikan telah diajukan melalui Dapodik sejak tahun 2023, bahkan tim dari Kementerian PUPR telah melakukan survei langsung dan menyatakan bahwa kondisi bangunan mengalami kerusakan berat.

Secara kasat mata, bangunan mungkin terlihat masih layak, tetapi kenyataannya lantai dua mengalami kerusakan parah dimana kayu-kayu penyangga lapuk, beberapa bagian atap hilang, dan pada musim hujan air merembes ke dalam ruangan, termasuk ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium.

Hal ini sangat mengganggu proses belajar-mengajar, terutama saat cuaca buruk.

Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, pihak sekolah tetap berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi para siswa.

“Fisik sekolah boleh rusak, tetapi semangat kami untuk mendidik tidak akan surut,” ungkap kepsek.

Harapan besar disampaikan kepada Dinas Pendidikan dan instansi terkait untuk memberikan solusi nyata, baik dalam bentuk distribusi siswa secara merata maupun realisasi renovasi bangunan sekolah yang telah diusulkan sejak lama.

Dengan penuh harap kepsek berucap, “Semoga suara dari sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan siswa dan keterbatasan fasilitas ini dapat didengar dan segera ditindaklanjuti, demi masa depan pendidikan yang lebih merata dan berkualitas,”tutupnya. (LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *