MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, SD Negeri 12 Ambon menghadapi sejumlah tantangan serius dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran ini. Hingga bulan lalu, data yang tercatat di sistem Dapodik hanya menunjukkan 8 calon siswa, jauh di bawah jumlah ideal untuk satu rombongan belajar (rombel), yaitu minimal 28 siswa. Dengan kondisi tersebut, sekolah masih kekurangan sekitar 10 siswa untuk memenuhi standar satu rombel.
Kepala SDN 12 Ambon, Yuliarti Salasa, S.Pd., dalam wawancara singkat kami Senin 14 juli 2025 di ruang kerjanya menjelaskan bahwa, jumlah tersebut bukan sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata. Secara fisik, saat ini sudah ada 18 calon siswa yang mengikuti kegiatan di sekolah. Namun, sebagian dari mereka belum dapat didaftarkan di Dapodik karena masih kurang kelengkapan administrasi, seperti akta kelahiran.
“Kami khawatir jika terburu-buru mendaftarkan mereka tanpa dokumen lengkap, nanti akan jadi masalah di Dapodik,” ujar Yuliarti.
Permasalahan lain yang dihadapi SDN 12 Ambon adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Sekolah yang berada di pusat kota ini tidak memiliki kantin, UKS, maupun perpustakaan. Fasilitas yang ada hanya satu ruang kantor dan tiga ruang kelas, yang digunakan secara paralel bersama SDN 13 Ambon.
“Kami mohon agar pemerintah lebih jeli dalam melihat pemerataan siswa di kompleks sekolah ini. Di satu kompleks ada empat sekolah, tetapi distribusi siswa tidak merata. Ada sekolah yang muridnya melebihi kapasitas, sementara kami hampir tidak dapat siswa,” tambah Yuliarti.
Terkait tenaga pendidik, SDN 12 Ambon memiliki 11 guru yang terdiri dari guru kelas, guru agama Islam dan Kristen, guru olahraga, dan guru musik. Untuk kurikulum, sekolah ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan tengah mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran mendalam, termasuk pengenalan coding.
Prestasi siswa SDN 12 Ambon pun patut diapresiasi. Sejak kepemimpinan Yuliarti dimulai pada 2021, sekolah ini rutin mengirimkan siswa berprestasi hingga tingkat nasional. Dalam ajang O2SN cabang karate, siswa SDN 12 Ambon telah mewakili provinsi selama tiga tahun berturut-turut. Selain itu, siswa mereka juga berprestasi dalam lomba bertutur dan lomba bahasa Inggris secara mandiri.
Namun, pihak sekolah menyayangkan bahwa guru pendamping tidak selalu diberangkatkan dalam ajang-ajang tersebut.
“Kadang kami yang membiayai keberangkatan siswa dan guru, terutama untuk lomba yang bukan difasilitasi langsung oleh dinas,” jelasnya.
Dengan segala keterbatasan dan dedikasi yang ada, SDN 12 Ambon berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, baik dari sisi pemerataan peserta didik maupun penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, demi menunjang kualitas pendidikan yang merata di kota Ambon. (LD)











Komentar