MM.COM, AMBON, – Perairan Maluku bersiap menjadi pusat perhatian bahari internasional lewat ajang bergengsi “Banda Neira Yacht Race 2026”. Event perdana yang membuka rute langsung dari Darwin, Australia, menuju jantung sejarah Pulau Banda ini, dinilai sebagai langkah terobosan yang tidak hanya mendongkrak pariwisata, tetapi juga membawa misi sosial dan kemandirian anggaran yang konkret.
Ketua Ambon Sailing Community (ASC), Nico Tulalessy, menyatakan bahwa fondasi utama dari “Banda Neira Yacht Race” yang puncaknya digelar pada 8 Agustus 2026 adalah hubungan emosional (relationship). Sebanyak 16 kapal layar dari Australia datang murni atas dasar persaudaraan tanpa mengejar keuntungan komersial (fee).
Melalui kedekatan ini, para pelayar asing akan terlibat langsung dalam aksi sosial, seperti pemberian bantuan alat olahraga, jukulele, hingga program orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah di Banda Neira melalui skema “home visit”.
“Ada 16 kapal dengan 16 kapten yang akan datang, dan mereka ini sudah sering ke Banda. Mereka sudah terikat secara emosional dengan warga di sana. Makanya, semangat Banda Yacht Race ini murni adalah persaudaraan,” ujar Nico.
Lebih lanjut, Nico menegaskan bahwa kehadiran Wakil Konsul Jenderal Australia dalam acara “Trophy Presentation” nanti akan dimanfaatkan sebagai ruang diplomasi strategis untuk melobi program pendanaan langsung (funding) dari Pemerintah Australia guna membangun infrastruktur di Banda.
Event ini juga menjadi batu loncatan menuju mimpi besarnya menggelar “Rally to de Maluku” yang melibatkan jaringan “Royal Queensland Yacht Squadron” dari Brisbane.
“Kita mengubah itu menjadi kebutuhannya dorang (Australia), sehingga dorang bisa support dan dorang punya program atau dorang punya funding untuk sesuatu di Banda. Ini baru langkah awal dari mimpi besar membuat “Rally to de Maluku,” tambah Nico.
Dukungan penuh datang dari Pemerintah Provinsi Maluku melalui Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, “R. Affandy Z. Hassanussi, S.STP., M.Si.,” yang juga bertindak sebagai Pembina ASC. Dalam wawancara eksklusif di ruang kerjanya pada Senin (22/6/2026), Affandy memberikan apresiasi tinggi terhadap kemandirian finansial event ini yang mengandalkan dukungan penuh dari pihak Darwin, sehingga sama sekali tidak memberikan beban fiskal pada APBD Maluku di tengah masa efisiensi keuangan negara.
“Di tengah kondisi keuangan negara yang sedang efisien, inovasi yang ditunjukkan ASC ini sangat tepat dan cerdas. Bapak Gubernur sangat mendukung kerja-kerja seperti ini karena tidak membebani pemerintah daerah, namun dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Affandy.
Melihat tingginya antusiasme yang mencapai hampir 100 peserta, Affandy mendorong agar event ini dipatenkan ke dalam kalender tahunan pariwisata daerah guna memaksimalkan potensi premium Banda seperti pala, cengkih, dan perikanan.
Di sisi lain, selaku Kepala Dinas Sosial, ia memastikan pemerintah hadir untuk mengawal Standar Pelayanan Minimal (SPM) sosial, sekaligus memperkuat langkah mitigasi bencana mengingat Pulau Banda memiliki gunung api aktif.
“Event ini sangat bermanfaat untuk lebih mensosialisasikan keunggulan destinasi di Banda yang memiliki histori luar biasa. Kami dari instansi sosial juga akan melihat langsung pemenuhan SPM serta langkah mitigasi kebencanaan, agar masyarakat Banda lebih tanggap dan siap siaga terhadap potensi risiko alam,” jelas Affandy.
Demi memastikan kelancaran acara, koordinasi matang selama satu tahun terakhir telah mengunci komitmen dari berbagai instansi lintas sektoral.
Mulai dari pengamanan laut oleh Kodaeral IX TNI Angkatan Laut, dukungan Dinas Pariwisata, hingga pelayanan administratif di pintu masuk oleh instansi vertikal seperti Imigrasi, Bea Cukai (BHUK), Karantina Pelabuhan, serta Karantina Hewan dan Tumbuhan.
Melalui kolaborasi yang kuat ini, masyarakat Banda Neira kini bersiap menjadi tuan rumah yang ramah, siap memetik perputaran ekonomi langsung sekaligus mempererat hubungan historis antara Maluku dan Australia.(LD)













Komentar