MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 22 Agustus 2025 — Untuk menekan angka migrasi tidak teratur dan perdagangan manusia di wilayah perairan Indonesia, International Organization for Migration (IOM) bersama Yayasan Arika Mahina, Yayasan Peduli Inayana Maluku, dan didukung Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon, menggelar sosialisasi bertajuk “Pencegahan Perdagangan Orang dan Penyelundupan Manusia” di SMK Negeri 5 Ambon.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional IOM bertajuk STREAM (Melintasi Batas: Memperkuat Koordinasi, Deteksi, dan Pengelolaan Kejahatan Maritim Transnasional Terorganisir Terkait Migrasi di Indonesia), yang didukung oleh International Narcotics and Law Enforcement Affairs (INL) bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap praktik kejahatan terorganisir transnasional seperti “TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) dan TPPM (Tindak Pidana Penyelundupan Manusia).
IOM merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah hadir di Indonesia sejak tahun 1979 dan berkomitmen dalam penanganan isu-isu migrasi, termasuk membantu pengungsi, pekerja migran, dan korban perdagangan orang.

Paparan Kasus Nyata dan Peran Imigrasi
Sosialisasi dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan “Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon”, yaitu “Revli Clief Tangkuman” dan “Edwin”, yang menjelaskan fungsi utama keimigrasian, dari pengurusan paspor hingga pengawasan lalu lintas orang antarnegara. Mereka juga menjabarkan bagaimana TPPO dan TPPM kerap terjadi melalui modus iming-iming kerja di luar daerah atau luar negeri.
“Keimigrasian bukan hanya soal paspor. Ini soal melindungi warga negara dari eksploitasi dan tindak kejahatan lintas batas,” ujar Revli.

Sementara itu, Direktur Yayasan Peduli Inayana Maluku, “Chery C. Laisina”, mengangkat salah satu kasus nyata yang terjadi awal tahun ini di Kota Ambon, di mana dua anak dari Manado dibawa secara ilegal ke Maluku dan dieksploitasi secara ekonomi oleh pihak yang menjanjikan pekerjaan.
“Perdagangan manusia itu nyata. Bukan cuma barang yang diselundupkan, manusia pun bisa jadi komoditas jika kita lengah. Karena itu, penting bagi siswa untuk memahami risikonya sejak dini,” ujarnya penuh penekanan.

Apresiasi dari Sekolah
Wakil Kepala SMK Negeri 5 Ambon Alexander Pattipeiluhu, S.Pd, turut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini. Menurutnya, pemahaman siswa terhadap isu migrasi aman dan TPPO sangat penting, terlebih karena sekolah vokasi memang mempersiapkan siswa langsung ke dunia kerja.
“Kami berharap siswa tidak hanya siap kerja, tapi juga paham risiko. Terutama bagi siswa perempuan yang lebih rentan dijadikan korban dalam kasus TPPO,” ucapnya.

Edukasi Interaktif dan Kampanye Publik
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab, kuis berhadiah, dan sesi foto bersama. IOM dan mitra juga membagikan 200 brosur serta memasang poster dan spanduk edukatif di lingkungan sekolah sebagai bagian dari kampanye informasi publik.
Selain SMK Negeri 5 Ambon, kegiatan ini akan dilanjutkan di “tiga desa prioritas” di Kota Ambon, yaitu “Latuhalat”, “Batu Merah”, dan “Rumahtiga”, yang dipilih berdasarkan kepadatan penduduk dan kerentanan terhadap migrasi tidak teratur.
Dengan semakin tingginya pemahaman masyarakat, diharapkan dapat memutus rantai perdagangan orang dan penyelundupan manusia, serta mendorong praktik migrasi yang “aman, legal, dan manusiawi”. (LD)











Komentar