oleh

Festival Seni Budaya Sangar Ami Luma: Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur di Bumi Tanunu

Lepanews.com, Desa Ety, Seram Bagian Barat — Dalam hening malam yang disinari cahaya lampu yang terang, detik-detik bersejarah terukir di Desa Ety, Kecamatan Seram Barat, Senin (3/8/2026) sekitar pukul 19.00 WIT. Di tengah semilir angin yang sejuk meniup semangat, Festival Seni Budaya Sangar Ami Luma sekaligus Pencanangan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 resmi digelar, menandai babak baru kebangkitan budaya Negeri Ety-Tanunu yang nyaris terkikis zaman.

Menyambut Tamu Kehormatan dengan Dentuman Cakalele
Gemuruh tarian Cakalele—tarian perang khas Maluku yang sarat makna kepahlawanan—menyambut kedatangan rombongan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku dan Camat Seram Barat, Rony Salenussa. Iringan parang dan salawaku yang berkilau di bawah cahaya lampu panggung menghidupkan kembali semangat leluhur yang terus bergaung di setiap sudut Desa Ety.

“Sangar Ami Luma”: Garda Terakhir Pelestarian Budaya
Bersama Penjabat Kepala Desa Ety Leunardus Ulate, S.Hut, dalam sambutannya yang menggugah, menegaskan komitmen penuh pemerintah desa untuk mendukung keberlangsungan Sangar Ami Luma sebagai benteng terakhir pelestarian seni dan budaya.
“Kami akan terus memberikan dukungan dan suport penuh kepada sangar ini. Bagaimana kita bisa menjaga, melestarikan, dan terus mengembangkan budaya dan seni di setiap bidang. Mari saling menopang, menjaga kekompakan, agar seni budaya kita tidak terkikis dan punah. Inilah tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus,” ujarnya dengan lantang di hadapan ratusan warga dan tamu undangan.

Membangun Identitas Daerah di Tengah Arus Modernisasi
Hadir mewakili Pemerintah Provinsi Maluku, Kordinator Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku, Bapak Yan Talahatu, dalam sambutannya menyoroti peran strategis festival budaya sebagai media membangun identitas daerah dan desa.
“Pembentukan Sangar Ami Luma bukanlah perkara mudah. Butuh perjuangan yang amat berat untuk mengajak anak-anak kita kembali mencintai budayanya sendiri. Namun kami dari pemerintah provinsi siap terus mendorong dan membantu—bukan hanya di Desa Ety, tetapi di 11 kabupaten/kota se-Maluku,” tegasnya.

Dentuman Tifa Tandai Pencanangan HUT RI ke-81
Puncak acara ditandai dengan pemukulan tifa oleh Camat Seram Barat, Rony Salenussa, sebagai simbol resmi dimulainya rangkaian HUT Kemerdekaan RI ke-81 yang akan dipusatkan di Desa Ety pada 17 Agustus 2026 mendatang.
Dalam sambutannya, Camat menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu menyukseskan kegiatan.
“Setiap anak-anak kita akan menampilkan tarian dan pujian malam ini. Mari kita nikmati bersama sebagai wujud kebanggaan kita terhadap kekayaan budaya Maluku,” ungkapnya.

12 Tarian Membangkitkan Bahasa Makahala yang Hampir Punah
Panggung festival kemudian bergemuruh dengan 12 pertunjukan seni tradisional yang memukau. Di antaranya tarian Katreji, Tarian Timba Ikan Nasi, Tarian Maku-Maku, hingga alunan ukulele yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak Desa Ety.
Yang paling istimewa, setiap tarian dan lagu dibawakan dengan lantunan bahasa Makahala—bahasa leluhur masyarakat Ety-Tanunu yang kini nyaris terlupakan. Setiap gerakan dan syair menjadi upaya kolektif untuk “menghidupkan kembali” warisan yang telah diamanahkan oleh para tetua masa lampau.

Melestarikan untuk Masa Depan
Festival Seni Budaya Sangar Ami Luma bukan sekadar perayaan. Ini adalah deklarasi—bahwa di tengah gempuran modernisasi, masyarakat Desa Ety memilih untuk kembali ke akar budayanya. Bahwa mereka memilih untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan leluhur agar tidak punah ditelan zaman.
Sebagaimana pesan penutup dari Kepala Desa Ety: “Bagaimana kita selalu melestarikan seni budaya yang sudah dititipkan oleh leluhur kita di masa lampau. Ini adalah tanggung jawab kita. Ini adalah harga diri kita.”
Festival berlangsung hingga larut malam, meninggalkan harapan baru bagi kebangkitan budaya Maluku di bumi Seram Barat—sebuah langkah kecil yang bermakna besar untuk Indonesia yang bhinneka. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed