MM.COM, AMBON, — Ketersediaan modal, arus kas (cash flow), strategi pemasaran, hingga hubungan dengan pelanggan selama ini menjadi prioritas utama para pelaku usaha dalam menjalankan roda bisnisnya. Namun, ada satu risiko besar yang kerap luput dari perencanaan: apa yang terjadi jika pemilik atau penopang utama ekonomi keluarga tiba-tiba terserang penyakit kritis?
Pertanyaan mendasar tersebut menjadi sorotan utama dalam forum ‘Health and Financial Talk’ bertajuk “Program Kesehatan dan Ketahanan Bisnis Kota Ambon 2026” yang digelar di Ruang Vlissingen Pemda Kota Ambon, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang digagas atas kolaborasi “Pemerintah Kota Ambon, Manulife Indonesia Agency melalui Phoenixtar”, serta “RSU Siloam Ambon” ini menghadirkan jajaran pejabat Pemda, direksi RSU Siloam Ambon, dokter spesialis, pimpinan pelaku usaha, pemilik UMKM, hingga tokoh masyarakat.
David Gozali: Penyakit Kritis Bawa Tekanan Medis Sekaligus Finansial.
Dalam sambutan pembukanya, “David Gozali”, Owner Phoenixtar mewakili Manulife Indonesia Agency, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemkot Ambon dan RSU Siloam Ambon yang telah memfasilitasi ruang edukasi tepercaya bagi warga dan pelaku usaha di Ambon.
David menyoroti realitas yang dialami banyak usaha keluarga dan UMKM, di mana sang pemilik bisnis memegang hampir seluruh keputusan strategis—mulai dari operasional harian, keputusan pembayaran, hingga hubungan dengan pemasok dan pelanggan.
“Ketika orang tersebut harus menjalani operasi, terapi, atau masa pemulihan jangka panjang, bisnis dapat kehilangan arah jika tidak memiliki sistem dan persiapan yang memadai. Pada saat yang sama, keluarga tetap memerlukan biaya hidup, cicilan tetap jatuh tempo, pendidikan anak harus berjalan, dan karyawan menunggu gaji,” kata David.
Menurut David, risiko penyakit kritis menciptakan dua tekanan hebat sekaligus: “tekanan medis dan tekanan finansial”. Dampaknya tidak selesai hanya saat tagihan rumah sakit terbayar, melainkan berlanjut pada biaya kontrol, obat-obatan, rehabilitasi, penyesuaian gaya hidup, hingga potensi kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja penuh.
David menekankan bahwa Phoenixtar dan Manulife Indonesia tidak ingin masyarakat baru menyadari pentingnya perlindungan setelah musibah terjadi.
“Kami ingin masyarakat memahami tiga hal utama yang perlu disiapkan: “likuiditas keluarga, kelangsungan operasional bisnis, dan perlindungan finansial yang sesuai”. Edukasi yang baik bukan untuk menakut-nakuti, melainkan membantu masyarakat mengukur kondisi keuangan, mengenali celah perlindungan, dan mengambil keputusan secara bijak,” lugas David.
Wali Kota Bodewin Wattimena: Penyakit Kritis Datang Seperti Pencuri di Malam Hari.
Menanggapi paparan tersebut, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dalam ‘keynote speech’-nya menyambut hangat kolaborasi lintas sektor ini. Mengutip pepatah bijak, Bodewin mengingatkan seluruh hadirin akan hakikat kesehatan.
“Sehat itu murah, tetapi sakit itu mahal. Waktu dan kesehatan adalah dua aset berharga yang sering tidak kita hargai sampai keduanya hilang. Kita kerap menganggap kesehatan sebagai hal biasa hingga akhirnya lalai,” tutur Bodewin.
Dengan nada lugas namun komunikatif, Bodewin mengibaratkan penyakit kritis sebagai ancaman tak terduga yang dapat meruntuhkan kesejahteraan masyarakat dalam waktu singkat.
“Penyakit kritis ini datang seperti pencuri di malam hari. Dia tidak memberitahu kita kapan mau datang. Baru selesai ngobrol, tiba-tiba serangan jantung atau stroke. Ketika penopang utama keluarga tumbang atau meninggal dunia, keluarga yang tadinya berada di atas garis kemiskinan bisa langsung merosot menjadi “miskin ekstrem,” tegas Wali Kota.
Bodewin juga tak segan menyentil kebiasaan masyarakat—termasuk dirinya sendiri—yang kerap mengabaikan waktu istirahat dan menjaga pola hidup.
“Kita manusia ini sering merasa hebat. Padahal saya sendiri kadang lalai, main biliar sampai jam 3 pagi sampai kaki kram. Ini pelajaran bagi kita semua bahwa jangan menunggu sakit baru kita peduli. Menerapkan pola hidup sehat, rajin beristirahat, dan deteksi dini melalui pemeriksaan berkala harus jadi gaya hidup,” seloroh Bodewin yang disambut hangat para peserta.
Ketahanan Bisnis dan Sinergi Membangun Kota.
Lebih lanjut, Bodewin menegaskan bahwa bagi sebuah badan usaha, kesehatan pemilik dan tenaga kerja bukan sekadar urusan pribadi, melainkan pilar utama ketahanan ekonomi dan keberlanjutan bisnis.
“Ketahanan bisnis tidak hanya dibangun dengan menjual, mencari modal, atau pemasaran. Bisnis yang kuat adalah bisnis yang tetap dapat berjalan dan bernapas meskipun pemiliknya untuk sementara waktu harus menjalani perawatan medis,” tambahnya.
Mengingat keterbatasan ruang fiskal daerah dalam memenuhi seluruh kebutuhan layanan medis, Pemkot Ambon sangat mengapresiasi kontribusi sektor swasta, rumah sakit, dan lembaga keuangan. Ia berharap program edukasi ini berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan, termasuk rencana aksi pemeriksaan kesehatan massal dan deteksi dini menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon mendatang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan medis oleh Direktur RSU Siloam Ambon “Dr. Paulus Hadi Wijaya”, Dokter Spesialis Jantung “Dr. Imam Haryana, Sp.JP”, dan Dokter Spesialis Bedah Sub-Spesialis Onkologi “Dr. Fernando B, Sp.B Subsp. Onk”, serta jajaran ‘Senior Business Partner’ Phoenixtar Manulife Indonesia, “Erwin Simanjuntak” dan “Melinda K. Simanjuntak”.(LD)














Komentar