MM.COM, AMBON, – Upaya mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan Maluku mendapat suntikan inovasi baru. Melalui Rapat Komite Pengarah Program INOVASI Fase ke-3 yang digelar di Hotel Santika Ambon, Selasa (5/5), Pemerintah Provinsi Maluku bersama Pemerintah Australia resmi memperkuat kolaborasi strategis guna mengakselerasi mutu pembelajaran di bumi Seribu Pulau.
Rapat bertema “Akselerasi Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Kolaborasi Ekosistem Pendidikan” ini menjadi panggung pengenalan metode pendidikan futuristik yang diadaptasi untuk daerah terpencil: kurikulum ‘coding’ dan kecerdasan artifisial (AI) tanpa memerlukan aliran listrik.
Inovasi Kontekstual untuk Wilayah 3T.
Ibu Laila Yudiati, perwakilan dari Kedutaan Besar Australia (DFAT), mengungkapkan bahwa Maluku menjadi wilayah percontohan penting dalam program ini. Mengingat kondisi geografis Maluku, inovasi yang ditawarkan tidak lagi kaku pada fasilitas fisik.
“Kami bekerja sama sangat dekat dalam pengembangan ‘coding’ dan kecerdasan artifisial melalui pendekatan ‘unplugged’—jadi tidak memerlukan listrik. Ini adalah langkah konkret memperluas literasi digital secara inklusif bagi anak-anak di wilayah kepulauan dan terpencil,” jelas Laila dalam sambutannya.
Laila juga memastikan dukungan Australia akan terus berlanjut. Evaluasi formal akan dilakukan pada 2027 sebagai bentuk akuntabilitas dana, yang diharapkan menjadi dasar rekomendasi kelanjutan program hingga tahun 2031.
Budaya Mutu: Perubahan Pola Pikir di Satuan Pendidikan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Prof. Dr. Toni Toharudin, menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh sekadar menjadi beban program, melainkan harus menjadi gerakan budaya mutu.
“Mutu adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pusat hingga guru di sekolah. Kita harus membangun ‘mindset’ bahwa budaya mutu bukan sekadar kepatuhan standar, tapi proses merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi secara jujur berbasis data Rapor Pendidikan,” tegas Prof. Toni.
Ia menambahkan, perluasan program ke wilayah Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Seram Bagian Barat, dan Kota Ambon membuktikan bahwa praktik baik pendidikan harus tumbuh menjadi gerakan bersama, bukan berhenti di satu wilayah saja.
Sinergi Daerah: Fondasi Utama Pembangunan.
Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Ir. Sadali Ie, M.Si., IPU, yang membuka rapat secara resmi dengan pemukulan Tifa, menggarisbawahi pentingnya peran Pemerintah Kabupaten/Kota sebagai ujung tombak pendidikan dasar.
“Keberhasilan pendidikan dasar berdampak langsung pada jenjang pendidikan selanjutnya. Kami di provinsi melanjutkan, namun intinya ada di para pimpinan daerah kabupaten/kota. Sinergi ini adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan demokrasi jangka panjang di Maluku,” ujar Sadali.
Sekda juga menaruh harapan besar agar program INOVASI ini mampu membedah tantangan digitalisasi bagi tenaga kependidikan agar “melek teknologi” demi menghadapi tantangan globalisasi yang kian pesat.
Tujuan dan Target Hasil Rapat:
1. Akselerasi Literasi & Numerasi: Meningkatkan capaian belajar siswa kelas 1-6 SD dengan fokus pada karakter dan keterampilan dasar.
2. Digitalisasi Inklusif: Implementasi metode ‘unplugged coding’ untuk memastikan anak di daerah tanpa listrik tetap memiliki kompetensi digital.
3. Penguatan Sistem: Mengintegrasikan data Rapor Pendidikan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang valid di tingkat daerah.
4. Keberlanjutan Strategis: Merumuskan rekomendasi konkret bagi keberlanjutan kemitraan Indonesia-Australia hingga 2031.(LD)














Komentar