MM.COM, POLDA MALUKU – Biro SDM Polda Maluku menggelar seleksi Computer Assisted Test (CAT) Psikologi penerimaan Tamtama Polri Tahun Anggaran 2026 dengan sistem transparan berbasis real-time score serta pengawasan ketat internal dan eksternal.
Tahapan seleksi yang berlangsung di Laboratorium Komputer Politeknik Negeri Ambon, Selasa (5/5/2026), diikuti 56 peserta calon Tamtama Polri.
Kegiatan dipimpin Kabag Psikologi Biro SDM Polda Maluku AKBP Thukul Handayani, M.Psi., mewakili Karo SDM Polda Maluku, didampingi panitia pelaksana dari Bag Dalpers Biro SDM.
Untuk menjamin objektivitas dan akuntabilitas seleksi, panitia melibatkan pengawasan internal dari Itwasda dan Bid Propam Polda Maluku, serta pengawas eksternal dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku.
AKBP Thukul Handayani menegaskan bahwa seluruh proses seleksi dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip BETAH, yakni Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis.
“Transparansi seleksi kami wujudkan melalui sistem real-time score, sehingga peserta dapat langsung mengetahui hasil ujian setelah tes selesai,” ujarnya.
Dari hasil ujian CAT Psikologi, sebanyak 38 peserta dinyatakan memenuhi syarat (MS), sementara 18 peserta lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).
Sebagai bentuk pendekatan humanis, Biro SDM Polda Maluku bersama HIMPSI Maluku juga memberikan layanan konseling kepada peserta yang dinyatakan TMS.
“Peserta yang belum berhasil tetap kami berikan pendampingan dan edukasi agar mereka mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki untuk kesempatan berikutnya,” kata Thukul.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Peserta yang dinyatakan memenuhi syarat akan melanjutkan ke tahapan seleksi berikutnya sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Penerapan sistem CAT berbasis real-time score dalam seleksi Tamtama Polri menunjukkan adanya upaya serius institusi kepolisian dalam membangun kepercayaan publik terhadap proses rekrutmen. Transparansi menjadi faktor penting untuk menghapus stigma negatif terkait praktik percaloan dan kecurangan yang selama ini kerap menjadi sorotan masyarakat.
Menariknya, pendekatan humanis yang dilakukan melalui layanan konseling bagi peserta TMS memperlihatkan bahwa seleksi tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada pembinaan mental peserta. Langkah ini mencerminkan perubahan paradigma rekrutmen Polri yang lebih edukatif dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.
Keterlibatan pengawas internal maupun eksternal juga menjadi indikator penting bahwa proses seleksi kini semakin terbuka dan akuntabel. Jika konsistensi ini terus dijaga, maka reformasi rekrutmen Polri berpotensi menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun institusi yang profesional, modern, dan dipercaya masyarakat. (*








Komentar