MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 24 Juli 2025 Hotel Santika lt.5. Setelah vakum selama lebih dari dua dekade pasca-reformasi 1998, Pendidikan Pancasila kini resmi kembali menjadi mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan, dari tingkat dasar hingga menengah atas. Kebijakan ini dihidupkan kembali melalui Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Sebagai bagian dari upaya penguatan karakter bangsa, Kota Ambon dipilih sebagai salah satu lokus utama implementasi program ini melalui satuan pendidikan. Kegiatan ini juga menandai peluncuran resmi buku teks utama Pendidikan Pancasila yang disusun oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Kepala BPIP, Prof. Drs. KH Yudian Wahyudi, MA., Ph.D., dalam wawancara usai pembukaan sosialisasi di Lt.7 Hotel Santika Ambon, Kamis (24/7), menegaskan bahwa pendidikan Pancasila akan kembali dimasukkan dalam kurikulum formal. Hal ini dianggap sebagai jawaban atas tantangan global dalam pembentukan karakter anak bangsa.
“Jalan keluar dari krisis global, terutama dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa, adalah dengan menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila ke dalam pendidikan formal,” tegasnya.

Sementara itu, Surahno, S.H., M.Hum., Deputi Bidang Pengkajian dan Materi BPIP, menyampaikan bahwa selama lebih dari 20 tahun, Pendidikan Pancasila nyaris hilang dari ruang kelas. Kini, melalui buku teks baru yang terdiri dari 70% praktik dan 30% teori, karakter siswa diharapkan terbentuk secara lebih konkret.
“Kami ingin membangun generasi yang berjiwa Pancasila, bukan sekadar memahami teorinya, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sebanyak 300 guru dari jenjang pendidikan dasar dan menengah di Kota Ambon dilibatkan dalam kegiatan ini. Buku teks yang diluncurkan terdiri dari 24 buku 12 untuk guru dan 12 untuk siswa yang dirancang agar pembelajaran lebih kontekstual, kritis, dan menyenangkan.

Wali Kota Ambon juga menyampaikan apresiasinya atas ditunjuknya Ambon sebagai kota pelaksana program ini. Ia menyebut bahwa globalisasi perlahan mengikis pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai luhur bangsa.
“Pendidikan Pancasila adalah fondasi untuk membangun generasi berkarakter kuat menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Menariknya, BPIP juga meluncurkan program “Pancasila dalam Tindakan” sebagai bentuk dukungan konkret terhadap implementasi nilai Pancasila. Bantuan senilai Rp200 juta akan diberikan dalam bentuk program nyata, bukan uang tunai.
Salah satu wujud nyatanya adalah pembangunan 4-5 Tempat Pembuangan Sampah (TPS) higienis di Kota Ambon.
“Kami tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai, melainkan lewat program-program nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Prof. Yudian.

Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, “Ir. Prakoso, M.M”, menambahkan bahwa pengelolaan sampah yang baik merupakan bentuk sederhana namun nyata dari penerapan nilai-nilai Pancasila.
“Membuang sampah pada tempatnya adalah bagian dari kesadaran berbangsa dan bernegara. Warga harus mulai dari hal kecil seperti memilah sampah organik dan non-organik,” tutupnya.
Program ini menandai fase baru dalam pendidikan nasional, di mana Pancasila tidak hanya diajarkan sebagai teori, melainkan juga dihidupkan dalam praktik nyata, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (LD)














Komentar