MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 21 Juli 2025, Banjir yang melanda wilayah sekitar Kali Wairuhu pada 21 Juni 2025 lalu masih menyisakan dampak serius bagi masyarakat. Luapan air akibat tingginya debit yang melebihi daya tampung Kali Wairuhu menyebabkan Kali Wairuhu membludak, menggenangi kurang lebih 13 RT dengan ketinggian air mencapai lutut hingga dada orang dewasa.
Penyebab utama banjir ini diduga kuat karena penumpukan sedimen tanah yang telah memenuhi sekitar sepertiga tinggi talud sungai, sehingga aliran air tersumbat dan meluber ke pemukiman warga. Masyarakat terdampak terutama yang berada di wilayah hilir Kali Wairuhu mengaku mengalami kesulitan pasca banjir, terutama dalam membersihkan rumah dari lumpur dan genangan.
Dalam wawancara singkat awak media bersama bapa raja hative kecil Ir.Josias J.Muriany mengatakan, sebagai bentuk respons cepat, Balai Wilayah Sungai (BWS) bekerja sama dengan Pemerintah Kota, Pemerintah Negeri, serta masyarakat setempat telah mengerahkan dua unit ekskavator untuk mengeruk dua titik strategis, yakni di bawah Jembatan Loga-Loga dan di kawasan Aster, tepatnya di sekitar Gereja Yabok.
Meski pengerukan telah dilakukan, pemerintah negeri menyampaikan bahwa penanganan ini belum sepenuhnya efektif karena bagian hulu Kali Wairuhu, yang turut menyumbang besar volume air, belum tersentuh pengerukan.
Hal ini disebabkan oleh karena Aliran air dari kawasan Batu Merah, Gunung Malintang, Wara, BTN Kanawa, BTN Manusela, dan sejumlah perumahan lainnya di wilayah atas, semuanya bermuara ke Kali Wairuhu melalui dua cabang utama.
“Kami mendengar bahwa minggu ini alat berat akan ditarik ke Waitomu. Tapi kami harap pengerukan di Kali Wairuhu bisa dituntaskan dulu karena sudah puluhan tahun tidak pernah dikeruk. Jika pengerjaan hanya dilakukan separuh, kami khawatir banjir seperti kemarin bisa terulang lagi,” ungkap bapa raja.
Untuk mengatasi dampak banjir, warga secara swadaya bersama pemerintah negeri telah menggunakan dua unit Alkon (pompa air) guna membersihkan rumah-rumah warga yang terendam. Masyarakat juga saling membantu dan dihimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan agar aliran air tidak tersumbat oleh sampah atau endapan lainnya.
Melihat besarnya dampak banjir ini, pemerintah negeri meminta perhatian serius dari pemerintah dan Balai Wilayah Sungai agar proses pengerukan dilakukan secara menyeluruh hingga ke bagian hulu. Dengan demikian, potensi banjir dapat diminimalisir dan keselamatan serta kenyamanan masyarakat dapat terjaga. (LD)












Komentar