MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 6 juli 2025, Polemik muncul di balik pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMA Negeri 1 Ambon. Di balik pernyataan resmi Kepala Sekolah, Dra. E. Laturiuw, M.Si, dalam berita manggurebe maju tertanggal 30 Juni 2025 lalu, yang menyebut bahwa penerimaan siswa telah sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) dari Kemendikdasmen dan hanya membuka 9 rombongan belajar (rombel) dan 36 siswa/kelas, namun muncul temuan mencengangkan: “jumlah rombel yang diterima mencapai 12″.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar. Jika juknis telah dijalankan sebagaimana mestinya, mengapa data lapangan menunjukkan fakta berbeda?
Janji Wawancara, Lalu Ditolak.
Tim redaksi media ini mencoba mengkonfirmasi langsung kepada pihak sekolah, tepatnya kepada staf SMA Negeri 1 Ambon. Setelah janji pertemuan dijadwalkan pada pukul 14.00 WIT, awak media mendatangi sekolah dengan niat baik untuk menggali kebenaran.
Namun yang terjadi justru mengejutkan. Kami ditolak !!!
“Maaf, Ibu Kepsek sedang tidak bisa menerima tamu, beliau lagi pusing urus kegiatan sekolah” ujar seorang staf yang juga menjabat sebagai sekretaris/penerimaan tamu.
Ironisnya, di waktu yang sama, seorang siswa berseragam bebas justru diperkenankan masuk ke ruang Kepala Sekolah “tanpa hambatan”. Padahal kami telah mengikuti prosedur dan waktu yang telah ditentukan.
Rombel Bayangan?
Diduga kuat, rombel tambahan ini adalah hasil dari praktik di luar ketentuan resmi juknis, membuka kemungkinan adanya “penyalahgunaan wewenang atau permainan kuota titipan”.
Kejanggalan ini menimbulkan spekulasi luas di kalangan orang tua dan masyarakat. Jika benar terjadi manipulasi kuota, maka ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan “pengkhianatan terhadap kepercayaan publik” dan sistem pendidikan yang mestinya menjunjung keadilan, apalagi selain menjadi kepala sekolah laturiuw juga ditunjuk sebagai ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) provinsi Maluku.
Mengapa wartawan ditolak, sementara akses khusus diberikan kepada pihak tertentu? Siapa yang bermain di balik rombel ke-12?
Publik masih menunggu jawaban.
Akhir Kata: Transparansi atau Ilusi?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi tambahan terkait dugaan ini. Tim media kami akan terus menggali informasi lebih lanjut guna menjawab pertanyaan publik.
Sebab jika praktik ini dibiarkan, maka keadilan dalam dunia pendidikan hanyalah ilusi di balik meja administratif. (Tim)












Komentar