MM.COM, AMBON — Suasana pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Ambon di Swiss-Belhotel mendadak diwarnai ketegangan. “Ronny Sianressy”, mantan Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Provinsi Maluku sekaligus kader tulen partai berlogo pohon beringin tersebut, secara mengejutkan dilarang masuk dan mengikuti acara pembukaan, Sabtu (10/10/2026).
Larangan yang dilayangkan oleh pihak panitia ini sontak memicu tanda tanya besar. Sebagai figur yang telah lama mendedikasikan diri membesarkan partai, Ronny mengaku sangat kecewa dengan tindakan diskriminatif yang dinilai mencoreng nilai-nilai demokrasi internal partai.
“Saya cuma rindu ingin mengikuti pembukaan Musda. Tapi ketika saya datang, dilarang naik dan tidak boleh ikut. Saya tidak tahu aturan apa yang dipakai panitia hari ini,” ujar Ronny di hadapan awak media dengan nada kecewa.
Ronny menegaskan, kehadirannya murni sebagai kader yang ingin menyaksikan dinamika demokrasi secara langsung, tanpa membawa kepentingan pribadi atau keberpihakan terhadap calon ketua tertentu. Ia bahkan mempertanyakan standar aturan yang diterapkan panitia pelaksana, mengingat banyak pihak lain yang diizinkan masuk sementara dirinya justru diadang.
“Mereka boleh jadi kader Golkar, bisa naik ke atas, tapi saya sebagai mantan ketua tidak bisa. Kalau panitia membuat aturan sendiri di luar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), itu sama saja melakukan perbuatan melawan hukum,” tegasnya.
Meski diliputi rasa kecewa yang mendalam akibat insiden yang disebutnya belum pernah terjadi dalam sejarah internal partai tersebut, Ronny memilih untuk mengalah dan menghargai keputusan di lokasi. Ia tetap menunjukkan sikap kenegarawanannya dengan mendoakan agar pelaksanaan Musda Golkar Kota Ambon dapat berjalan lancar dan melahirkan pemimpin yang benar-benar berpedoman pada aturan organisasi.
Di akhir keterangannya, Ronny mengingatkan kembali hakikat awal berdirinya Partai Golkar sebagai wadah pemersatu bangsa yang menjunjung tinggi pluralisme, tanpa memandang suku, ras, maupun agama.
“Golkar ini besar dalam perbedaan. Jangan karena urusan siapa yang mau jadi ketua, lalu dibuat hal-hal seperti begini. Biarkan demokrasi ini terbuka secara baik karena itu adalah eksistensi dan cita-cita luhur Partai Golkar,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia Musda Partai Golkar Kota Ambon masih belum memberikan keterangan resmi terkait alasan pelarangan kader senior tersebut untuk mengikuti acara pembukaan.
Bagaimana pandangan Anda terhadap dinamika internal Partai Golkar Kota Ambon ini?(LD)











Komentar