MM.COM, AMBON, – Sebuah momentum iman yang megah dan penuh syukur mewarnai Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Galala Hative Kecil. Gedung Pastori 1 yang megah akhirnya resmi ditabiskan dan diresmikan dalam sebuah upacara sakral yang dihadiri oleh pimpinan gereja dan jajaran pejabat tinggi daerah, Sabtu (11/07/2026).
Pentabisan gedung ini dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, “Pendeta Sacharias Izak Sapulette, M.Si.,” didampingi oleh Gubernur Maluku, “Hendrik Lewerissa”, serta disaksikan oleh para tokoh daerah, donatur, dan ratusan warga jemaat yang memadati lokasi acara.
Kemandirian Iman: 72% Dana dari Swadaya Jemaat.
Dalam laporan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pembangunan, “Fredy Riupassa”, terungkap fakta luar biasa mengenai gotong royong warga jemaat. Pembangunan Pastori 1 yang menelan total anggaran sebesar “Rp 2.499.300.000” ini sebagian besar bersumber dari kantong jemaat sendiri.
“Sebesar Rp 1.800.363.000 atau sekitar 72 persen dari total dana berasal dari persembahan dan partisipasi murni seluruh warga Jemaat GPM Galala Hative Kecil. Sisanya didukung oleh para donatur sebesar Rp 695.973.000,” ujar Fredy disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Proses pembangunan ini memakan waktu kurang lebih 3 tahun sejak peletakan batu penjuru pada 27 Agustus 2023 lalu. Fredy juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tim Peresmian yang berhasil mempersiapkan acara megah ini hanya dalam waktu satu bulan.
Apresiasi MPH Sinode: “Ini Contoh Keteladanan Bagi Jemaat Lain”.
Ketua MPH Sinode GPM, “Pdt. Sacharias Izak Sapulette, M.Si.,” dalam arahannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi atas dedikasi dan kemandirian finansial yang ditunjukkan oleh Jemaat Galala Hative Kecil.
“Saya minta kita berikan “applause” untuk kerja penuh dedikasi ini. Kekuatan utama gereja itu ada pada partisipasi jemaat, yang lain bersifat menopang. Jemaat di sini telah memberikan contoh dan keteladanan yang baik dalam membangun prasarana fisik pelayanan,” puji Pdt. Sacharias.
Ia menegaskan bahwa Pastori 1 ini tidak boleh menjadi sekadar bangunan fisik yang sunyi, melainkan harus merefleksikan wajah gereja yang ramah. Pastori ini bukan tembok bisu dan dingin, melainkan wajah gereja yang ramah dan menggembalakan. Menjadi rumah doa, rumah pastoral, dan terbuka bagi sesama, termasuk menjadi tempat transit bagi pelayan-pelayan dari klasis pedalaman yang jauh”, tambahnya.
Gubernur Maluku: “Jadikan Tempat Ini Laboratorium Kasih”.
Senada dengan Ketua Sinode, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya menekankan bahwa peresmian ini memiliki dimensi sosial-kultural yang besar bagi pembangunan manusia di Maluku. Ia meminta agar nilai-nilai persaudaraan khas Maluku tetap hidup di dalam pelayanan gereja.
“Secara teologis, pastori ini adalah manifestasi ketaatan iman. Di atas tanah ini, semangat “Pela Gandong”, “Potong di Kuku Rasa di Daging”, dan “Ale Rasa Beta Rasa” tidak boleh sebatas pemanis bibir, melainkan harus menjadi nafas hidup,” tegas Gubernur Hendrik.
Ia juga menitipkan harapan besar kepada Ketua Majelis Jemaat dan seluruh pelayan agar memanfaatkan fasilitas baru ini sebagai pusat pemikiran yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Jadikanlah Gedung Pastori 1 ini sebagai “Laboratorium Kasih”, pusat inspirasi di mana ide-ide kreatif dan solutif dilahirkan untuk menjawab realitas sosial jemaat. Sambutlah setiap orang dengan senyuman Kristus,” tutupnya.
Acara peresmian yang berlangsung penuh sukacita ini turut dimeriahkan oleh penampilan paduan suara yang anggun, yang sebagian besarnya merupakan mahasiswa dari Fredy Riupassa (Ketua Panitia yang juga merupakan akademisi/dosen).
Hadir pula dalam acara ini jajaran Forkopimda Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Wakil ketua DPRD provinsi, Ketua DPRD Kota Ambon, serta para tokoh adat Negeri Hative Kecil.(LD)














Komentar