oleh

Jamin Makan Siang, HAKLI Peringatkan SPPG Ambon: Jangan Remehkan Alergi Siswa, Bisa Picu Syok Fatal Saat Makan Siang!

MM.COM, AMBON – Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) memberikan peringatan keras terkait keamanan pangan dalam Program Gizi (SPPG) di Kota Ambon. Tak hanya soal bakteri atau bahan kimia, ancaman serius justru datang dari risiko alergi makanan siswa yang sering terabaikan.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Satuan Gugus Khusus Kebencanaan HAKLI sekaligus Ketua Bidang 1 Kolegium Kesehatan Lingkungan, “Johny Sumbung, SKM., MKes”, usai menutup Pelatihan Penjamah Makanan intensif di Lt.5 Manise Hotel, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Kalyana Mitra Mandiri berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon dan HAKLI ini menggembleng 200 relawan dari empat SPPG selama dua hari.

Dalam keterangannya Johny menekankan bahwa fokus keamanan pangan tidak boleh hanya pada cemaran fisik, biologi, atau kimia semata. Isu alergen (bahan pemicu alergi) harus menjadi prioritas utama.

“Yang saya tekankan di sini sebenarnya adalah alergen. Karena kita tidak pernah tahu data siswa yang alergi terhadap makanan tertentu,” ujar Johny.

Menurutnya, ketidaktahuan ini sangat berbahaya. Siswa yang memiliki alergi terhadap menu tertentu bisa mengalami reaksi fatal di sekolah.

“Jangan sampai nanti siswa yang alergen terhadap makanan tertentu, malah bisa mengakibatkan reaksi yang nanti bisa menyebabkan syok (anafilaktik). Ini harus dicegah dari awal,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Johny mendesak pihak SPPG yang melayani siswa di Kota Ambon untuk segera membangun koordinasi kuat dengan Dinas Kesehatan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data kesehatan siswa yang valid melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

“SPPG harus berkoordinasi dengan Dinkes untuk meminta data kesehatan siswa lewat UKS. Sehingga kita bisa tahu setiap siswa mempunyai riwayat penyakit tertentu dan diberikan perilaku khusus,” jelas Johny.

Dengan data tersebut, SPPG dapat melakukan intervensi dini, termasuk memperbaiki atau menyesuaikan menu makanan bagi siswa yang teridentifikasi memiliki alergi.

Pelatihan intensif ini diikuti oleh 100 relawan dari dua SPPG di wilayah Ahusen (hari pertama) dan 100 relawan dari dua SPPG di wilayah Benteng (hari kedua).

Mengingat SPPG Ahusen sudah mulai mendistribusikan makanan, sementara SPPG Benteng belum beroperasi, Johny menerapkan metode pelatihan yang berbeda.

“Khusus untuk yang Benteng, karena belum operasional, kami memberikan ilustrasi-ilustrasi terkait melalui video dan gambar. Ini penting agar wawasan mereka terbuka melihat bagaimana faktor-faktor risiko keracunan itu harus diminimalisir,” paparnya.

Terkait kelayakan dapur, Johny juga menghimbau SPPG lain di Kota Ambon maupun Kabupaten/Kota se-Provinsi Maluku yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk segera mengurusnya.

“SLHS ini penting. Saya himbau segera melaksanakan proses untuk memperoleh sertifikat tersebut mengingat pelayanan terhadap siswa sudah harus segera dilakukan,” ujarnya.

Terakhir, ia berpesan agar seluruh relawan bekerja sebagai satu tim yang solid (teamwork) bersama Kepala SPPG. Segala temuan atau masalah di dapur harus segera dilaporkan untuk perbaikan instan.

“Semua kontrol bukan hanya dari SPPG, tapi juga pada saat makanan itu didistribusi ke para siswa. Ini semua diperbaiki untuk bagaimana meminimalisir tingkat keracunan yang terjadi di Kota Ambon,” pungkasnya.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *