oleh

IKB SBT Desak Polda Maluku Tangkap Pelaku Pembacokan Ozi Rumain: “Preman Lebih Berkuasa dari Hukum?”

MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon — Kasus pembacokan sadis terhadap mahasiswa UIN AMSA Ambon asal Seram Bagian Timur (SBT), Ozi Rumain, kembali memicu gelombang kemarahan publik. Hingga Kamis malam, Ozi masih terbaring lemah di RS Bhayangkara dengan kondisi luka berat di kepala, tangan, dan tubuh. Sabetan senjata tajam bahkan membuat bagian kepala korban dilaporkan retak, dan tim medis tengah menyiapkan operasi tahap kedua untuk menyelamatkan nyawanya.

Namun yang membuat keluarga dan masyarakat SBT geram adalah lambannya penanganan aparat kepolisian. Padahal, menurut pihak keluarga, foto-foto terduga pelaku telah diperlihatkan kepada korban, dan Ozi telah mengiyakan bahwa orang dalam foto tersebut adalah pelaku yang membacoknya.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, tidak ada pengumuman resmi penangkapan dari Polda Maluku.

IKB SBT Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada Polda Maluku

Keluarga Besar Ikatan Seram Bagian Timur (IKB SBT) akhirnya melontarkan mosi tidak percaya kepada Polda Maluku. Mereka menilai institusi kepolisian telah gagal menegakkan hukum di Kota Ambon, bahkan terkesan kalah menghadapi aksi premanisme.

“Masa hanya satu dua orang pelaku preman saja polisi tidak mampu tangkap dalam 1×24 jam? Apakah ini berarti preman lebih hebat dari hukum negara?” tegas perwakilan IKB SBT dalam keterangannya.

Masyarakat SBT mempertanyakan mentalitas dan profesionalisme aparat. Mereka menilai, jika kondisi ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap Polda Maluku akan runtuh total.

“Kalau begini caranya, bubarkan saja polisi di Maluku. Biar sekalian preman yang berkuasa,” sindir mereka tajam.

Keluarga Korban: Kami Masih Percaya Polisi, Tapi…

Di tengah kritik keras, keluarga korban tetap berusaha menahan emosinya. Mereka menyampaikan bahwa kepercayaan mereka kepada polisi masih ada, namun mulai terkikis akibat tidak adanya progres nyata.

“Kami percaya polisi punya jumlah banyak, punya sistem. Di luar negeri saja mereka mampu tangkap pelaku kejahatan. Jadi tolong, jangan di Maluku justru tidak mampu,” ujar keluarga Ozi.

Mereka juga meminta fasilitas kesehatan terbaik bagi Ozi, yang saat ini tengah bertarung antara hidup dan mati.

“Jika Polisi Takut Menangkap, Beri Izin Kami Tangkap Sendiri”

Pernyataan paling keras datang dari keluarga yang mulai kehilangan kesabaran.

“Jika Polda takut tangkap pelaku, maka buat perjanjian tertulis agar kami keluarga yang turun tangan menangkap orang yang hampir membunuh anak kami,” tegas keluarga.

Pernyataan ini dianggap sebagai bentuk frustrasi mendalam akibat lambannya penegakan hukum di daerah tersebut.

Tuntutan Publik: Polda Maluku Harus Bergerak!

Kasus ini telah menjadi pukulan keras bagi citra kepolisian di Maluku. Publik menuntut:

1. Penangkapan segera terhadap pelaku pembacokan.

2. Transparansi penyelidikan dan update resmi kepada keluarga korban.

3. Pengamanan dan pelayanan kesehatan terbaik bagi Ozi Rumain.

4. Evaluasi internal atas lambatnya respons Kepolisian Maluku.

Kasus ini bukan hanya tentang Ozi Rumain, tetapi tentang apakah hukum masih berdiri lebih tinggi daripada premanisme di negeri ini. (*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *