MM.COM, AMBON, 27 April 2026 – Ada jejak kaki yang tidak pernah lelah melangkah, dan ada hati yang tidak pernah berhenti mengabdi. Suasana di Mapolsek Sirimau usai pelantikan hari ini, Senin (27/4), terasa berbeda. Bukan sekadar seremonial serah terima jabatan yang dingin dan kaku, melainkan sebuah pelukan hangat bagi perubahan yang dinanti.
“Iptu Bastian Tuhuteru, S.Pd.”, sosok yang dulu “mencumbu” sunyinya pedalaman Buru Selatan, kini resmi menakhodai Polsek Sirimau di bawah naungan Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease.
Warisan Doa Seorang Ibu: “Hidup Harus Jadi Berkat”
Di balik ketegasan seragam cokelatnya, Bastian adalah seorang putra yang taat pada wasiat luhur. Meski sang ayah telah tiada, ia membawa bekal berharga dari ibundanya, “Magdalena Laturake”. Seorang ibu rumah tangga yang dengan kesederhanaannya menanamkan nilai abadi di batin Bastian.
“Hidup harus jadi berkat, jang biking susah orang lain” kenang Bastian menirukan pesan sang ibu.
Kalimat sederhana inilah yang menjadi kompas moral bagi Bastian saat menjalankan tugas, didampingi istri tercinta, “Tasya Salelatu”, serta tiga buah hatinya: “Gideon, Gabriel, dan Griselda”. Bagi Bastian, keluarga adalah pelabuhan, dan pesan sang ibu adalah jangkar yang membuatnya tetap membumi meski pangkat terus mendaki.
Legenda Hidup dari Wilayah Tapal Batas
Bagi masyarakat Maluku, nama Bastian bukan sekadar deretan pangkat di pundak. Ia adalah legenda hidup. Peraih “Hoegeng Corner Awards 2025” kategori “Polisi Tapal Batas dan Pedalaman” ini membawa aroma ketulusan dari rimba ke tengah hiruk-pikuk kota.
Rekam jejaknya adalah rangkaian kisah heroik yang mampu menggetarkan nurani:
– Guru di Tengah Tugas Negara: Saat menjabat Kapolsek Leksula dan Waesama, ia tidak hanya menangkap kriminal. Ia rutin masuk pelosok untuk mengajar anak-anak yang hampir kehilangan harapan sekolah.
– Melawan Maut di Kepala Madan: Namanya harum secara nasional saat ia mempertaruhkan nyawa menantang amukan gelombang demi menyelamatkan korban kecelakaan laut di perairan Kepala Madan.
– Pendekatan Humanis: Pengalamannya sebagai Kanit Binmas Namrole dan Ka SPKT Polres Pulau Buru membentuk karakternya yang lebih mengedepankan dialog daripada konfrontasi.
Saya Tidak Membawa Komando, Saya Membawa Hati
Ditemui di ruang kerjanya pasca-pelantikan, Iptu Bastian menatap jendela yang menghadap jalanan Kota Ambon. Tatapannya teduh, namun ada ketegasan yang bergetar saat ia berbicara.
“Dulu, saya menjaga batas negara dengan buku dan keberanian di tengah hutan. Sekarang, saya menjaga jantung kota dengan telinga yang siap mendengar dan hati yang siap melayani,” ujarnya dengan nada rendah.
Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, Polsek Sirimau akan memprioritaskan “response time”. Ia tidak ingin ada masyarakat yang merasa terabaikan saat melapor.
“Jika masyarakat merasa takut saat melihat polisi, maka ada yang salah dengan kehadiran kami. Saya ingin warga Sirimau melihat seragam ini sebagai simbol bahwa mereka tidak lagi sendirian dalam masalah,” tambahnya.
Sinergi Iman dan Kesadaran Kolektif
Langkah pertama Bastian di kota bukan dengan unjuk kekuatan, melainkan dengan sujud syukur dan silaturahmi bersama para tokoh agama—Imam, Pastor, dan Pendeta. Ia percaya bahwa keamanan kota yang heterogen seperti Ambon hanya bisa dijaga dengan kekuatan doa dan sinergi lintas iman.
Di akhir perbincangan, Bastian menyampaikan pesan yang kini mulai viral di media sosial, sebuah ajakan untuk kembali ke kesadaran kolektif:
“Mari katong (kita) jaga kamtibmas bersama. Jadilah polisi bagi diri sendiri. Keamanan bukan tentang siapa yang paling kuat menindak, tapi tentang siapa yang paling peduli untuk menjaga sesama.”
Kini, di pundak “Iptu Bastian Tuhuteru”, warga Sirimau menaruh harapan besar. Ia adalah pengingat bagi kita semua bahwa seragam polisi bukan sekadar soal kewenangan, melainkan tentang pengabdian yang menggetarkan jiwa.
Selamat bertugas, Sang Polisi Tapal Batas! (LD)












Komentar