MM.COM, AMBON, – Muktamar Kepulauan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ke-14 resmi dihelat di Gedung Christian Centre, Kota Ambon, pada Kamis (25/6/2026). Pembukaan forum tertinggi organisasi mahasiswa muslim ini berlangsung dinamis dan sarat akan pesan ideologis serta kritik sosial.

Acara diawali dengan khidmat melalui doa pembuka yang dipimpin oleh “Ezy Julianto”, disusul dengan suguhan drama teater singkat yang menyentil fenomena perlahan hilangnya rumah budaya dalam kelestarian adat Maluku.
Dalam laporan pembuka, Ketua Wilayah sekaligus Ketua Pelaksana Kegiatan, “Mustakim Rumasukun, S.Si.,” menyampaikan orasi yang membakar semangat peserta. Ia menegaskan bahwa pemilihan tema “Muktamar Kepulauan” merupakan hasil diskusi panjang dan representasi dari perjuangan masyarakat Maluku demi keadilan wilayah maritim di mata pemerintah pusat.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah pernyataan tegas Mustakim mengenai independensi total kepanitiaan dalam menyelenggarakan acara skala nasional ini.
“Sampai saat ini, kami tidak pernah berurusan dengan Pemerintah Provinsi Maluku bahkan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk kegiatan ini. Kami sampaikan bahwa anak-anak Maluku sangat mandiri, inovatif, dan kreatif. Tanpa bantuan pemerintah pun, kita bisa melakukan kegiatan ini,” tegas Mustakim di hadapan kurang lebih 300 peserta dari seluruh Indonesia.
Ia menambahkan, seluruh pembiayaan kegiatan murni bersumber dari gotong royong kader, pengurus pusat, alumni, dan para simpatisan yang bergerak atas dasar ideologi non-partisan. Langkah ini diambil demi menyatukan persepsi untuk keberlanjutan masyarakat Maluku yang berkeadilan dan berdaulat menyongsong bonus demografi 2030.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) KAMMI, “Muhammad Amri Akbar”, dalam sambutannya memetakan arah gerakan mahasiswa ke depan. Menurutnya, setelah melewati fase perebutan identitas pasca-kemerdekaan dan fase konsolidasi demokrasi pada reformasi 1998, saat ini gerakan mahasiswa berada di fase ketiga:
“Komposisi dan Penguasaan Sumber Daya”.
“Kami tidak ingin kader kami gagap dalam membaca perubahan. Di tengah situasi yang kondusif ini, kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung, baik senior, presidium formatur, maupun Sekjen dari Maluku,” ujar Amri.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf jika ada dinamika organisasi yang sempat memanas, sekaligus menyampaikan terima kasih kepada jajaran kepolisian yang mengawal keamanan acara.
Meskipun sempat disinggung terkait absennya bantuan daerah, Pemerintah Provinsi Maluku tetap hadir memberikan apresiasi. Gubernur Maluku yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan, “Umar Alhabsy”, hadir untuk membuka acara secara resmi.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakannya, Gubernur menekankan strategisnya posisi Maluku yang memiliki luas wilayah laut mencapai 93,52% (6.166.365 \text{ km}^2) dengan total 1.422 pulau.
“Kondisi geografis ini membutuhkan gerak cepat generasi muda untuk menggali potensi ekonomi, menjaga kedaulatan, serta melestarikan budaya lokal,” kata Umar Alhabsy.
Pemprov Maluku juga menitipkan tiga pesan penting bagi kader KAMMI yang sedang bermuktamar:
1. Contoh Demokrasi Sehat: Jadikan muktamar ini sebagai laboratorium demokrasi yang dewasa, sehat, dan santun, tanpa menjatuhkan satu sama lain.
2. Mentalitas Tangguh: Jangan jadikan tantangan geografis kepulauan sebagai kelemahan, melainkan sumber kekuatan dengan melahirkan kader yang tangkas dan luas dalam berpikir.
3. Program Berdampak Nyata: Rumuskan program kerja yang menyentuh langsung kepentingan rakyat, mulai dari pemberdayaan ekonomi hingga pelestarian wilayah pesisir.
Muktamar Kepulauan KAMMI ke-14 ini dijadwalkan akan berlangsung selama dua hari ke depan sejak 25-26 Juni, untuk merumuskan rekomendasi strategis bagi internal organisasi dan kebijakan nasional, khususnya terkait pembangunan berbasis kepulauan.(LD)








Komentar