MM.COM, AMBON, – Empat tahun perjalanan implementasi pembelajaran digital melalui program Sekolah Enuma di Kota Ambon resmi memasuki fase refleksi akhir. Bertempat di Amaris Hotel Ambon, Rabu (22/4/2026), kegiatan ini menjadi momen krusial untuk mengevaluasi dampak positif serta keberlanjutan program bagi siswa PAUD dan sekolah dasar.

Direktur Yayasan Arika Mahina, “Ruth Saiya, M.Si.”, menutup rangkaian kegiatan dengan menekankan bahwa program ini bukan sekadar solusi tunggal, melainkan instrumen pendukung dalam memacu mutu pendidikan di Maluku.
Menanggapi kekhawatiran mengenai ketergantungan anak terhadap gawai (gadget), pihak Arika Mahina memberikan klarifikasi tegas. Menurut mereka, aplikasi Sekolah Enuma justru didesain untuk melawan pola konsumsi konten instan.
“Kami ingin mengubah fungsi “gadget” dari sekadar alat cari jawaban instan di internet menjadi ruang belajar yang interaktif. Di aplikasi ini, anak-anak diajak berproses—mulai dari mengenal huruf, menyusun suku kata, hingga memahami bacaan secara mendalam melalui modul yang terstruktur,” ujar Feby Sihasale, Koordinator Kegiatan Yayasan Arika Mahina.

Hasil nyata dari program ini dibagikan oleh guru pendamping dari SDN Seilale, “Moren Andrea Loppies, S.Pd”, yang didampingi oleh “Marlinda Alfons”, Menurut Loppies, dampak perubahan pada siswa sangat drastis, terutama pada kemampuan literasi dan numerasi, dan mereka berterima kasih kepada Yayasan Arika mahina atas pendampingan selama 4 tahun ini.
“Terima kasih kepada Yayasan Arika Mahina dengan pendampingan yang mereka lakukan selama ini. Dulu, anak-anak mungkin hanya mengenal huruf. Sekarang, mereka berpacu menyelesaikan level aplikasi. Motivasi mereka luar biasa, anak-anak sangat termotivasi mereka tidak mau tertinggal dari teman sebayanya,” tuturnya.
Ia menambahkan, fitur “gaming” pada aplikasi Sekolah Enuma menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa menghilangkan esensi akademik. Bahkan, anak-anak dengan kebutuhan khusus mendapatkan akses yang setara untuk belajar dan mencapai target level yang ditetapkan.
Meski diwarnai tantangan teknis seperti manajemen waktu integrasi kurikulum, kejenuhan siswa, serta kendala perangkat keras, pihak sekolah dan Yayasan Arika Mahina berhasil mengatasinya melalui koordinasi yang intensif.
Meskipun program ini akan berakhir pada Juni 2026, semangat untuk keberlanjutan tetap menyala. Yayasan Arika Mahina kini tengah menjajaki kolaborasi lanjutan agar fitur-fitur terbatas dalam aplikasi tetap dapat diakses untuk mendukung pendidikan di Ambon.
“Keberlanjutan ini tidak bisa hanya bergantung pada donor. Perlu kolaborasi nyata dari pemerintah daerah, orang tua, dan lembaga swasta. Sekolah Enuma telah membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, teknologi bisa menjadi katalisator bagi siswa untuk mencintai belajar,” tutup “Ruth Saiya”.
Program yang telah menyentuh 10 satuan pendidikan di Kota Ambon ini diharapkan menjadi model percontohan bahwa digitalisasi pendidikan, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, mampu mencetak generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga kuat dalam literasi dan karakter.(LD)









Komentar