oleh

Tutup Program Bersama The HEAD Foundation, Yayasan Arika Mahina Buka Babak Baru Transisi Mandiri

MM.COM, MASOHI, – Berakhirnya dukungan pendanaan dari “The HEAD Foundation” tidak menyurutkan langkah inovasi pendidikan di Maluku Tengah. Menandai babak baru transisi program, Yayasan Arika Mahina (YAM) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tengah menggelar pertemuan strategis “Penutupan Program Pembelajaran Digital Sekolah Enuma dan Penguatan Kemitraan Keberlanjutan” di Kantor Disdikbud Malteng, Kamis (25/06/2026).

Acara yang dilaksanakan secara hibrida (luring dan daring) ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Malteng, “Husen Mukadar, S.IP., M.A.,” jajaran kabid dan kasi, serta perwakilan sekolah sasaran yakni SDN 260 dan SDN 292 Maluku Tengah secara virtual.

Direktur Yayasan Arika Mahina, “Ruth Saiya”, mengungkapkan bahwa dalam usulan keberlanjutan kepada “The HEAD Foundation”, format pembelajaran Sekolah Enuma akan disesuaikan.

Jika sebelumnya berbasis akun personal per siswa di kelas awal (PAUD, kelas 1 dan 2), ke depan fiturnya akan dioptimalkan dalam mode “Laman Pustaka” tanpa jenjang dan akun pribadi.

“Siswa akan tetap bisa mengakses permainan, video, dan buku digital secara bebas. Pola ke depan diarahkan menyerupai metode perpustakaan digital,” jelas Direktur Yayasan Arika Mahina.

Langkah ini disambut baik oleh sekolah sasaran. Melalui ruang virtual, kepala sekolah dan guru dari SDN 260 dan SDN 292 menyatakan kesiapannya.

Perangkat tablet yang ada tidak akan dibiarkan menganggur, melainkan akan ditata di perpustakaan sekolah dengan pendampingan dari operator sekolah agar dapat diakses oleh seluruh siswa, bukan lagi terbatas pada kelas awal.

Menyikapi tantangan keterbatasan anggaran daerah pasca-donor, Kepala Dinas Pendidikan Malteng, “Husen Mukadar”, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan program digitalisasi yang berdampak nyata ini terhenti begitu saja.

“Kita harus mengidentifikasi sekolah-sekolah yang saat ini memiliki perangkat TIK (Tablet) dalam jumlah banyak. Sekolah-sekolah ini bisa melanjutkan praktik baiknya dan mengintervensi satuan pendidikan lain. Kolaborasi ekosistem adalah kunci; jika dinas atau Arika Mahina saja yang berpikir sendirian, ini tidak akan pernah selesai,” tegas Husen.

Terkait solusi finansial, Husen Mukadar membeberkan sejumlah opsi taktis:
– Optimalisasi Dana BOS: Mengarahkan pemanfaatan Dana BOS pada komponen peningkatan mutu peserta didik dan pelatihan guru secara mandiri untuk mengoperasikan sistem digital ini.
– Sinergi CSR Sektor Swasta: Menggandeng perbankan, BUMN, atau perusahaan swasta melalui dana “Corporate Social Responsibility” (CSR) sektor pendidikan guna mendukung penyediaan fasilitas penunjang.
– Ikatan Hukum Lewat MoU: Merancang Nota Kesepahaman (MoU) formal antara Dinas Pendidikan, Yayasan Arika Mahina, dan pihak donor untuk mengamankan payung hukum keberlanjutan program secara transisi.

“Kami sangat tertarik menyatukan ini dengan program dinas yang sudah ada. Bulan Juli ini, kami bahkan sudah berjalan untuk menyiapkan fasilitator. Kita cari jalan keluar bersama agar teknologi ini betul-betul berdampak pada anak-anak,” tambahnya.

Acara penutupan ini diakhiri dengan apresiasi mendalam dari Yayasan Arika Mahina kepada seluruh pihak, sekaligus menjadi titik mula transisi mandiri pembelajaran digital di Bumi Pamahanunusa demi mewujudkan generasi melek literasi dan numerasi berbasis teknologi.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *