MM.COM, AMBON, – Hasil Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Universitas Pattimura (UNPATTI) bersama INPEX Masela Ltd di Swiss-Belhotel Ambon, kamis 11 Juni 2026 membawa fakta mengejutkan sekaligus melegakan bagi dunia usaha di Maluku.
Kajian komprehensif tersebut memotret realita bahwa kesiapan rantai pasok dan vendor lokal di Maluku masih jauh dari standar yang diinginkan untuk menunjang Proyek Abadi Blok Masela.
Merespons hasil riset tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Maluku sekaligus Direktur PT Maluku Energi Abadi (MEA), Sam Latuconsina, menegaskan bahwa potret “pahit” ini harus dijadikan cambuk bagi seluruh pengusaha daerah agar tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
“Hasil kajian UNPATTI ini jujur mengejutkan, tapi ini adalah realita yang menggembirakan karena membuka mata kita. Faktanya, hampir semua vendor lokal kita saat ini mati suri, dengan modal rata-rata di bawah Rp1 miliar.
Selama ini kita terlalu menanti anggaran pemerintah (APBN/APBD). Begitu ada efisiensi, aktivitas proyek ikut runtuh,” ujar Sam Latuconsina di sela-sela kegiatan FGD bertema “Pengembangan Ekosistem Rantai Pasok Berbasis Peningkatan Kapasitas Penyedia Barang dan Jasa untuk Menunjang Proyek Abadi” tersebut.
MEA Siap Jadi ‘Lokal Integrator’ dan Jembatan Vendor Daerah.
Ketergantungan terhadap kontraktor nasional bahkan terjadi pada proyek-proyek rehabilitasi skala kecil di Maluku.
Belajar dari kondisi tersebut, Sam menegaskan MEA siap mengambil peran strategis sebagai “lokal integrator” untuk mengawal hak-hak pengusaha dan masyarakat lokal.
Sebagai BUMD yang diberi mandat mengelola Participating Interest (PI) 10% di tiga blok migas (Bula, Non-Bula, dan Masela), MEA akan menjadi motor penggerak untuk menginventarisir, menjembatani, dan meng-upgrade standar vendor lokal agar mampu menembus kualifikasi ketat proyek nasional.
“Kajian UNPATTI sudah memberikan “roadmap” dan solusi yang lengkap, mulai dari rantai pasok pangan hingga kesiapan teknis vendor. Sekarang tugas kita adalah mencari jalan keluar dari “gap” yang ada. Apakah nanti melalui Kerja Sama Operasional (KSO) dengan perusahaan nasional atau skema lainnya, itu yang akan kita eksekusi,” lanjutnya.
Mengawal Konten Lokal Senilai Rp90 Triliun.
Lebih lanjut, Sam memaparkan potensi luar biasa dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dalam konteks daerah akan dikawal sebagai konten lokal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat potensi sekitar 26,6% konten nasional yang wajib terserap dalam proyek raksasa ini.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah, angka tersebut menyentuh nilai fantastis, yakni sekitar Rp90 triliun.
“Kalau angka Rp90 triliun ini bisa kita jaga dan kawal bersama dalam 3 sampai 4 tahun ke depan saat proyek berjalan, bayangkan berapa perputaran ekonomi yang didapat pengusaha lokal, dan berapa besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk memajukan Maluku,” tegas Sam optimis.
Siapkan Regulasi Pembuka Jalan
Langkah taktis pun mulai digulirkan.
Sam mengaku telah berkoordinasi dengan DPRD Provinsi Maluku untuk mengusulkan MEA sebagai “lokal integrator” resmi.
Usulan ini direspon positif, dan saat ini fokus diarahkan pada penyusunan payung hukum yang kuat, dimulai dari Peraturan Gubernur (Pergub) hingga Peraturan Daerah (Perda).
“Momentum Blok Masela, ditambah dengan Blok Bula, Non-Bula, hingga Blok Binaya ke depan, harus menjadi “starting point” bagi Maluku untuk bertransformasi menjadi daerah produksi energi terbesar di Indonesia.
Kita punya waktu, dan kita harus meningkatkan standarisasi kita. Jangan hanya berteriak minta jatah tenaga kerja atau material lokal, tapi kita sendiri tidak siap,” cetus Sam.
Guna mematangkan kesiapan ini, Kadin Maluku berkomitmen melanjutkan agenda ini ke dalam Diskusi Ekonomi Bulanan dengan melibatkan akademisi UNPATTI, pelaku usaha dari HIPMI dan APINDO, serta Kepala Bappeda Maluku sebagai representasi pemerintah daerah.
Sam juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada INPEX Masela Ltd yang telah memercayakan UNPATTI untuk melakukan riset krusial ini. “Terima kasih kepada INPEX. Tanpa kajian ini, kita seperti berjalan di dalam gelap,” pungkasnya.(LD)














Komentar