MANGGUREBEMAJU.COM, Seram Bagian Timur (SBT) — Angin panas kembali berhembus dari Desa Administratif Kufar, Kecamatan Tutuk Tolu, Kabupaten Seram Bagian Timur. Nama Vendi Agstreyany A. Adam, Pejabat Kepala Desa (PJ) Kufar, kini menjadi sorotan tajam publik. Ia bukan hanya diduga menggelapkan gaji kader posyandu, tapi juga mengancam aktivis dan warga yang berani membuka suara soal dugaan korupsi dana desa.

Semua bermula ketika media ManggurebeMaju.com menerbitkan rilis resmi tentang dugaan penggelapan gaji kader posyandu di Dusun Kufar Bolomin. Tak terima dengan pemberitaan tersebut, PJ Desa Kufar diduga mengirim ancaman melalui pesan WhatsApp — sebuah langkah yang langsung memantik kemarahan publik.
Pesan ancaman itu kemudian diviralkan oleh seorang aktivis muda Maluku, mahasiswa Universitas Darussalam Ambon, yang juga putra asli Desa Kufar. Dalam waktu singkat, kasus ini pun meledak di media sosial, memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan aktivis dan masyarakat adat.
“Pejabat Desa Seperti Ini Tidak Layak!”
Aktivis Maluku, Manan Buaklofin, dengan nada tegas mengecam tindakan sang pejabat.
“Pejabat desa seperti ini tidak layak duduk di jabatan publik. Ia bukan pelayan rakyat, tapi menindas rakyat dengan jabatan,” ujar Manan di Ambon.
Menurut Manan, ancaman terhadap warga dan aktivis adalah pelanggaran serius terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang. Ia mendesak Kejaksaan Negeri SBT dan Inspektorat Kabupaten untuk segera turun tangan.
“Jangan tunggu viral dulu baru bertindak. Dua kali tahap pencairan dana desa sudah lewat, tapi masyarakat terus diabaikan. Kalau Bupati SBT, Fahri Husni Alkatiri, diam, itu artinya beliau ikut membiarkan pelanggaran dan korupsi tumbuh di depan mata,” tegasnya.
Aksi Massa di Depan Polda dan Kejati Maluku
Tak berhenti di situ. Manan memastikan bahwa dalam waktu dekat, organisasi mahasiswa dan pemuda Maluku akan menggelar aksi besar-besaran di depan Polda Maluku dan Kejaksaan Tinggi Maluku.
Tujuannya jelas: menuntut penegakan hukum atas ancaman dan dugaan korupsi di Desa Kufar.
“Kami tidak takut! Kalau pejabat desa berani mengancam rakyat, kami akan berdiri di barisan paling depan melawan ketidakadilan,” tutup Manan dengan nada berapi-api. (Tim)














Komentar