MM.COM, AMBON – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaruh perhatian serius terhadap tingginya minat generasi muda dalam berinvestasi di aset digital. Dalam kegiatan “Digital Financial Literacy” (DFL) yang digelar di Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Senin (4/5/2026), OJK mengajak mahasiswa untuk lebih kritis dan tidak sekadar ikut-ikutan tren dalam menghadapi fenomena aset kripto.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, “Adi Budiarso”, mengungkapkan bahwa pertumbuhan aset kripto di Indonesia melonjak drastis. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen aset kripto telah melampaui angka “21 juta pengguna”.
Literasi Masih Tertinggal di Maluku.
Meski adopsi digital meningkat, Adi menyoroti adanya kesenjangan antara akses dan pemahaman. Di Provinsi Maluku, data menunjukkan indeks inklusi keuangan mencapai “81,04%”, namun indeks literasi keuangannya baru menyentuh angka “40,78%”.
“Perkembangan aset kripto yang sangat cepat harus diimbangi dengan pemahaman memadai. Masih banyak masyarakat yang terjebak investasi ilegal dan penipuan digital karena rendahnya kesadaran keamanan digital,” tegas Adi di hadapan 400 mahasiswa yang memadati Aula Rektorat Unpatti.
Waspadai Karakteristik ‘High Risk High Return’.
OJK mengingatkan bahwa aset kripto memiliki volatilitas harga yang ekstrem. Adi menekankan pentingnya pemahaman fundamental sebelum terjun ke pasar yang mencatatkan nilai transaksi sebesar “Rp482,23 triliun” sepanjang tahun 2025 tersebut.
Ada lima risiko utama yang wajib dipahami investor muda:
1. Fluktuasi harga yang sangat ekstrem.
2. Risiko keamanan digital (peretasan akun).
3. Dinamika regulasi pemerintah.
4. Potensi penipuan (scam).
5. Faktor psikologis (FOMO atau takut ketinggalan tren).
Mahasiswa Sebagai Agen Edukasi.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura, “Fredy Leiwakabessy”, menyambut baik langkah strategis OJK. Menurutnya, edukasi ini krusial mengingat perubahan sektor keuangan sering kali bergerak lebih cepat daripada regulasi yang ada.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat agar mahasiswa tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga memiliki fondasi kuat dalam mengambil keputusan keuangan secara bijak,” ujar Fredy.
Kegiatan DFL ini merupakan bagian dari rangkaian “Bulan Literasi Kripto (BLK)” yang bertujuan mendorong pemerataan literasi keuangan digital, khususnya di kawasan Timur Indonesia. Acara ini juga menghadirkan para praktisi dari industri, termasuk perwakilan dari “Indonesia Crypto Exchange” (ICEX) dan Asosiasi Blockchain Indonesia, untuk memberikan pandangan teknis mengenai mekanisme kerja aset digital yang aman dan bertanggung jawab. (LD)














Komentar