MM.COM, AMBON, – Badan Pengurus Daerah (BPD) Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) Ambon secara resmi menggelar “Training” Konseling Berperspektif Korban Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Seksualitas. Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Gedung Gereja GPM Pniel Wayame, Ambon, mulai Selasa (16/06/2026).

Langkah progresif ini diambil sebagai respons nyata terhadap masih tingginya angka kekerasan pada perempuan dan anak di Maluku, sekaligus memutus mata rantai reviktimisasi—kondisi di mana korban justru disalahkan atau mendapat stigma saat mencari keadilan dan ruang aman.
Darurat Kekerasan di Maluku.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua BPD PERUATI Ambon, Pdt. Ruth R. Saiya, mengungkapkan fakta kekerasan terhadap perempuan dan anak di kota Ambon dan secara umum di Maluku masih tinggi.
Akses korban kepada keadilan masih menempuh jalan berliku.
Karena itu dalam tanggung jawab sebagai perempuan berpendidikan teologi, baik yang melayani di jemaat, kampus maupun di Masyarakat, yang bersentuhan dengan pendampingan kepada korban harus memiliki perspektif yang inklusif, dan tidak menyalahkan korban.
Ia menyoroti bahwa selama ini, pendampingan korban kekerasan berbasis gender sering kali membentur jalan buntu karena keluarga, komunitas,organisasi termasuk lembaga keagamaan, belum membuka akses bagi korban untuk mendapatkan layanan konseling yang inklusif, mengabaikan luka dan trauma korban.
“Seringkali perspektif pendamping atau konselor kita belum sensitif. Bukannya merangkul, kata-kata kita justru menghakimi dan menyalahkan korban. Melalui “training” ini, kita berkomitmen penuh agar tidak ada lagi tempat bagi stigma dan reviktimisasi di dalam tanggung jawab pendampingan dalam tugas pelayanan di gereja dan di masyarakat.” cetus Pdt. Ruth di hadapan peserta.
Gereja Wayame Jadi Pusat Penguatan Kapasitas Konselor.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (16–17 Juni 2026) ini menargetkan output yang tegas: “melahirkan 35 konselor berbasis jemaat dan masyarakat yang memiliki perspektif keadilan gender, keterampilan dasar intervensi krisis dan manajemen kasus serta kemampuan mengimplementasi konseling berperspektif korban kekerasan berbasis gender.”
Peserta merupakan keterwakilan dari berbagai Badan Pengurus Cabang (BPC) PERUATI se-Daerah Ambon, termasuk tim pastoral jemaat dan klasis, aktivis perempuan dan anak serta akademisi.
Menariknya, pelatihan ini juga melibatkan peserta laki-laki sebagai wujud inklusivitas dalam membangun perspektif feminis yang adil gender.
Ibadah pembukaan kegiatan dipimpin oleh Pdt. Fenero Pattinasarany dari Cabang PERUATI Pulau Ambon Utara, yang merefleksikan teladan spiritualitas dan hospitalitas dari pelayanan tokoh Ribka dari Kitab Kejadian 24:18.
Untuk memastikan akurasi dan ketajaman materi, PERUATI Ambon menurunkan tiga fasilitator internal yang telah mengikuti “training” tingkat nasional dari Badan Pengurus Nasional (BPN) PERUATI.
Mereka adalah Pdt. Ruth R. Saiya, M.Si (Fokus pada materi KBG/S dan Pengalaman Pendampingan), Pdt. Dr. Rie Apituley (Fokus pada Manajemen Kasus dan Penyusunan Kronologi), dan Pdt. Dessy Tuasela, Ph.D.” (Fokus pada Pendampingan & Konseling Korban).
Melalui kurikulum yang padat—mulai dari pemetaan bentuk kekerasan hingga simulasi konseling berperspektif korban kekerasan berbasis gender—para peserta dipersiapkan untuk menjadi rekan seberjalanan bagi para penyintas kekerasan di komunitas masing-masing.
Rangkaian kegiatan ini nantinya akan ditutup pada Rabu sore, yang dirangkaikan langsung dengan perayaan syukur HUT ke-31 PERUATI.(LD)












Komentar