oleh

Hentikan Reviktimisasi! PERUATI Ambon Cetak Konselor Gereja yang Sensitif Korban Kekerasan Gender.

MM.COM, AMBON, – Badan Pengurus Daerah (BPD) Persekutuan Perempuan Berteologi di Indonesia (PERUATI) Ambon secara resmi menggelar “Training” Konseling Berperspektif Korban Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Seksualitas. Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Gedung Gereja GPM Pniel Wayame, Ambon, mulai Selasa (16/06/2026).

Langkah progresif ini diambil sebagai respons nyata terhadap masih tingginya angka kekerasan pada perempuan dan anak di Maluku, sekaligus memutus mata rantai reviktimisasi—kondisi di mana korban justru disalahkan atau mendapat stigma saat mencari keadilan dan ruang aman.

Darurat Kekerasan di Maluku.
Dalam sambutan pembukaannya, Ketua BPD PERUATI Ambon, Pdt. Ruth R. Saiya, membeberkan fakta miris terkait tren kasus kekerasan domestik dan seksual yang dihimpun dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Ambon.

“Tahun 2023 tercatat ada 82 kasus, tahun 2024 sebanyak 73 kasus, dan grafik ini terus bergerak. Di tingkat provinsi Maluku, data Simfoni PPA mencatat ratusan kasus yang didominasi oleh korban perempuan dan anak.” tegas Pdt. Ruth.

Ia menyoroti bahwa selama ini, penanganan trauma korban sering kali membentur jalan buntu karena ruang-ruang komunitas, bahkan lembaga keagamaan, cenderung mendiamkan kasus demi menjaga “nama baik”.

“Seringkali perspektif pendamping atau konselor kita belum sensitif. Bukannya merangkul, kata-kata kita justru menghakimi korban. Misalnya mempertanyakan pakaian korban yang menyita perhatian publik atau menyalahkan kepatuhan istri pada suami. Melalui “training” ini, kita berkomitmen penuh agar tidak ada lagi tempat bagi stigma dan reviktimisasi di dalam pelayanan gereja.” cetus Pdt. Ruth di hadapan peserta.

Gereja Wayame Jadi Pusat Penguatan Kapasitas Konselor.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (16–17 Juni 2026) ini menargetkan output yang tegas: “melahirkan 35 konselor berbasis jemaat yang memiliki keterampilan dasar intervensi krisis dan manajemen kasus.”

Peserta merupakan keterwakilan dari berbagai Badan Pengurus Cabang (BPC) PERUATI se-Daerah Ambon, termasuk tim pastoral jemaat dan klasis. Menariknya, pelatihan ini juga melibatkan peserta laki-laki sebagai wujud inklusivitas dalam membangun perspektif feminis yang adil gender di lingkungan gereja.

Ibadah pembukaan kegiatan dipimpin oleh Pdt. Fenero Pattinasarany dari Cabang PERUATI Pulau Ambon Utara, yang merefleksikan teladan spiritualitas dan pelayanan tokoh Ribka dari Kitab Kejadian 24:18.

Turut hadir dalam pembukaan tersebut sejumlah tokoh kunci, di antaranya:
– Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Utara, Pdt. Reni Haniwela
– Ketua Majelis Jemaat (PHMJ) GPM Pniel Wayame, Pdt. Lodwiek Lesiela
– Jajaran Pengurus Daerah dan Cabang PERUATI se-Kota dan Kabupaten Ambon.

Fasilitator Bersertifikasi Nasional.
Untuk memastikan akurasi dan ketajaman materi, PERUATI Ambon menurunkan tiga fasilitator internal yang telah mengantongi sertifikasi “training” tingkat nasional dari Badan Pengurus Nasional (BPN) PERUATI. Mereka adalah:

1. “Pdt. Ruth R. Saiya” (Fokus pada materi KBG/S dan Pengalaman Pendampingan)
2. “Pdt. Dr. Rie Apituley” (Fokus pada Manajemen Kasus dan Penyusunan Kronologi)
3. “Pdt. Dessy Tuasela, Ph.D.” (Fokus pada Pendampingan & Konseling Korban).

Melalui kurikulum yang padat—mulai dari pemetaan bentuk kekerasan hingga simulasi pendampingan psikologis—para peserta dipersiapkan untuk menjadi rekan seberjalanan bagi para penyintas kekerasan di komunitas masing-masing.

Semangat pelatihan ini berakar kuat pada nilai-nilai perjuangan organisasi. Sejalan dengan moto PERUATI, yakni “Tajam Menatap, Peka Merasakan, Berani Bertindak,” para konselor baru ini diharapkan tidak hanya mampu melihat ketimpangan sosial secara kritis dan berempati pada penderitaan korban, tetapi juga memiliki keberanian iman untuk bertindak nyata dalam menegakkan keadilan gender.

​Rangkaian kegiatan ini nantinya akan ditutup pada Rabu sore, yang dirangkaikan langsung dengan perayaan syukur HUT PERUATI yang ke-31 tahun.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *