MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon – Bentrokan antar kelompok pemuda kembali terjadi di kawasan Arbes–STAIN, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat (26/12) siang, usai Salat Jumat. Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 10 orang mengalami luka-luka akibat terkena anak panah, senjata tajam, dan benda tumpul. Seluruh korban saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Ambon dan dipastikan tidak ada korban jiwa.
Menanggapi peristiwa yang dinilai berulang tersebut, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa langsung menginisiasi pertemuan darurat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparat keamanan, kepala daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Pertemuan digelar pada Jumat malam di Markas Polda Maluku, Tantui, Ambon.
Sejumlah pejabat hadir dalam pertemuan itu, di antaranya Wakil Gubernur Maluku “Abdullah Vanath”, Wakapolda Maluku “Brigjen Pol Imam Thobroni”, Kasdam XV/Pattimura “Brigjen TNI Nefra Firdaus”, Danrem 151/Binaya “Brigjen TNI Rafles Manurung”, Kabinda Maluku, Wali Kota Ambon “Bodewin Wattimena”, Bupati Seram Bagian Timur “Fachry Husni Alkatiri”, Kapolresta Ambon PP lease, Dandim 1504/Ambon, Ketua MUI Maluku, serta tokoh masyarakat SBT Munir Kairoty.
Dalam konferensi pers usai pertemuan, “Gubernur Hendrik Lewerissa” menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan penuh kepada Polri untuk segera memulihkan situasi keamanan dan menegakkan hukum secara tegas dan profesional.
“Ini bukan peristiwa pertama, tetapi peristiwa yang berulang. Karena itu kami mendukung penuh langkah Polri untuk memulihkan keamanan dan menegakkan hukum. Kita adalah negara hukum,” tegas Gubernur.
Ia menekankan bahwa proses hukum harus dijalankan berdasarkan aturan dan alat bukti yang sah. Gubernur juga meminta masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak benar.
“Sumber informasi resmi terkait penanganan peristiwa ini hanya dari Polda Maluku. Kami mengimbau masyarakat agar tidak terhasut berita bohong atau provokatif,” ujarnya.
Gubernur juga menyampaikan keprihatinannya terhadap para korban dan berharap seluruh korban luka segera pulih. Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas keamanan, terlebih di tengah suasana perayaan Natal.
Sementara itu, Wakapolda Maluku Brigjen Pol Imam Thobroni menjelaskan bahwa aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif. Hingga saat ini, sekitar 20 hingga 30 orang saksi telah dimintai keterangan, dan proses pengumpulan alat bukti masih berlangsung.
“Penetapan tersangka harus didukung minimal dua alat bukti yang sah. Kami bekerja hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dalam penegakan hukum,” kata Wakapolda.
Menjawab pertanyaan wartawan terkait rencana sweeping, Wakapolda menegaskan bahwa kepolisian akan melakukan razia di ruang publik terhadap warga yang membawa senjata tajam.
“Jika ditemukan membawa senjata tajam di jalan umum, kami akan melakukan tindakan tegas. Untuk sementara razia difokuskan di ruang publik, belum sampai ke rumah-rumah,” jelasnya.
Selain penindakan, rapat juga membahas langkah pencegahan jangka panjang, termasuk rencana pendirian pos polisi permanen di kawasan Arbes–STAIN yang dikategorikan sebagai wilayah rawan konflik, serta pemasangan CCTV lingkungan oleh pemerintah dan masyarakat.
TNI, melalui jajaran Kodam XV/Pattimura, menyatakan kesiapan untuk membantu Polri jika diperlukan guna menjaga ketertiban dan keamanan di wilayah Maluku.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan memastikan situasi di lokasi kejadian telah kembali kondusif dan pengamanan akan terus diperketat guna mencegah terulangnya konflik serupa. (LD).














Komentar