oleh

ARM Dorong Ruang Kreativitas Komunitas dalam Festival Budaya Katong Orang Basudara

MM.COM, Ambon – Komunitas ARM (Amboina Reality Music) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung seni dan budaya lintas komunitas di Maluku. Setelah berpartisipasi dalam kegiatan 27 Februari 2026 di Baileo Oikumene, ARM dipastikan akan kembali tampil pada Festival Budaya “Katong Orang Basudara: Harmoni dalam Keberagaman Lestari dalam Budaya” yang akan digelar 17 April mendatang di ACC.

Dalam wawancara media, Ketua Pengembangan dan Kreativitas ARM, Arvy Pattinasarany, menegaskan bahwa ARM akan dilibatkan sebagai pengisi acara dalam kegiatan Sound of Amboina pada 17 April di ACC. Pada kesempatan tersebut, ARM akan menampilkan Tari Samrah yang dikolaborasikan dengan tarian tradisional dan sentuhan tari kontemporer.

“Koreografi saya yang tangani langsung. Kita kolaborasikan tari Samrah dengan tarian tradisional dan tari temporer. Ini menjadi persembahan ARM dalam semangat orang basudara,” ujarnya.

Kolaborasi dalam Semangat Toleransi

Festival bertajuk “Katong Orang Basudara” tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga ruang implementasi nilai toleransi dan kebersamaan lintas komunitas. ARM, yang beranggotakan pemuda lintas agama, menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat nilai keberagaman dalam karya seni.

Menurut Arvy, ARM tidak hanya ingin dikenal dalam bidang tarik suara, tetapi juga unggul dalam seni tari kolaboratif bernuansa Islami yang tetap berpadu dengan budaya lokal dan tarian kontemporer.

“Kita bukan hanya tampil dengan nuansa Islam, tetapi juga membangun rasa toleransi. Di ARM ada yang beragama Kristen dan Muslim. Ini jadi contoh bahwa seni bisa menyatukan,” tegasnya.

Dorong Pemerintah Beri Ruang Komunitas

Sementara itu, Ketua Komunitas ARM, “Stane Latumahina”, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat yang telah merespons proposal kegiatan sehingga komunitas bisa berpartisipasi aktif.

Ia menilai pola “jemput bola” dari pemerintah perlu dicontoh oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kota, dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi komunitas untuk berekspresi.

“Jangan ukur dari besar kecilnya anggaran. Yang penting bisa menjawab kreativitas dari bawah (bottom up). Turun, identifikasi, tanya komunitas punya ide apa, kreasi apa, lalu fasilitasi,” ujarnya.

Menurutnya, tema orang basudara harus diwujudkan dalam praktik nyata, bukan sekadar narasi. Implementasi kolaborasi lintas komunitas dalam satu panggung menjadi bukti konkret semangat keberagaman itu.

Pesan untuk Generasi Muda

ARM juga memberi perhatian khusus pada generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan era digital. Stane mengajak anak-anak muda untuk tidak pesimis terhadap perkembangan zaman, termasuk kehadiran teknologi seperti AI.

“Anak-anak sekarang punya imajinasi dan kreativitas tinggi. Jangan hanya lihat mereka sibuk dengan gadget. Kita harus masuk, tanya ide mereka, kombinasikan dengan teknologi. Budaya dan AI bisa dikawinkan,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk proaktif bergabung dalam komunitas seni tanpa harus menunggu dipanggil.

“Jangan tunggu ditarik-tarik. Kalau tahu ada komunitas, datang dan tawarkan diri. Punya hobi seni? Gabung. Punya bakat? Kembangkan. Itu yang kita harapkan tumbuh di anak-anak muda,” pungkasnya.

Dengan keterlibatan dalam Festival 17 April mendatang, ARM berharap dapat terus menjadi motor penggerak komunitas seni di Maluku serta menjadi contoh nyata bahwa keberagaman dapat dirajut harmonis melalui karya budaya.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *