oleh

Festival Budaya “Katong Orang Basudara” Teguhkan Harmoni Maluku di Tengah Tantangan Media Sosial

MM.COM, Ambon, 27 Februari 2026 – Festival Budaya “Katong Orang Basudara” resmi digelar melalui Dialog Budaya di Baileo Oikumene, Ambon, Jumat (27/2), dengan mengusung tema “Harmoni dalam Keberagaman, Lestari dalam Budaya.” Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas agama, pemerintah, aparat keamanan, akademisi, dan generasi muda untuk meneguhkan kembali nilai persaudaraan masyarakat Maluku di tengah dinamika sosial dan arus media digital.

Laporan pelaksana kegiatan “Marthen Pattileamonia”, dalam laporannya disampaikan bahwa
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan didukung Dana Abadi Kementerian Kebudayaan melalui skema Dana Indonesiana yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tegaskan Visi Transformasi Maluku 2045

Mewakili Gubernur Maluku, Asisten III Setda Maluku “Dominggus Nicodemus Kaya” menegaskan bahwa nilai “orang basudara” tetap menjadi fondasi dalam visi pembangunan daerah menuju Transformasi Maluku 2045.

Menurutnya, pembangunan yang adil dan inklusif harus bertumpu pada kearifan lokal seperti “pela gandong, kalwedo dan sebagainya”, sebagai modal kultur sosial masyarakat Maluku.

“Yang kita syukuri, nilai-nilai hidup orang basudara masih ada dalam bingkai kehidupan masyarakat. Ini harus teraktualisasi dalam kebijakan publik dan penyelenggaraan pembangunan yang berpihak pada kepentingan bersama,” ujarnya.

Pendekatan Humanis Kepolisian

Dari unsur keamanan, perwakilan Polda Maluku menegaskan pentingnya pendekatan faktual dan langsung menyentuh masyarakat dalam merawat nilai persaudaraan.

Kombes polisi “John Horuhoruw (Plt) Wadir Binmas Polda Maluku menjelaskan, bahwa kepolisian mengedepankan konsep “polisi masyarakat” dan rumah damai sebagai ruang penyelesaian persoalan sosial secara kekeluargaan.

“Polisi bukan lawan masyarakat, tetapi bagian dari keluarga besar orang basudara. Karena itu kami membangun kemitraan agar masyarakat merasa dilindungi dan dicintai,” tegasnya.

Agama sebagai Penjaga Martabat Manusia

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku, “Abdullah Latuapo”, menegaskan bahwa seluruh agama hadir untuk menjaga martabat manusia dan keselamatan umat.

“Semua agama mengajarkan cinta kasih dan persaudaraan. Kita boleh berbeda suku dan agama, tetapi hakikatnya kita satu umat manusia. Nilai agama jangan berhenti pada pemahaman, tetapi harus terwujud dalam sikap dan perilaku,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Umum MPH Sinode GPM, “M. Takaria”, menekankan bahwa gereja harus peka terhadap persoalan kemanusiaan masa lalu dan masa kini, serta terbuka dalam merawat kehidupan bersama lintas iman.

Perspektif Budaya: Internalisasi Sejak Keluarga

Dari perspektif akademik dan budaya, Guru Besar FISIP Universitas Pattimura, “Hermien Soselisa”, menilai konsep “orang basudara” adalah nilai universal yang telah mengakar dalam struktur sosial masyarakat Maluku.

Menurutnya, internalisasi nilai persaudaraan dimulai dari unit sosial terkecil, yakni keluarga, melalui proses sosialisasi dan akulturasi sejak dini.

“Dalam keluarga mungkin katong bisa berbeda pendapat, tetapi setelah itu katong baku bae lai. Itu yang menjadi kekuatan budaya katong orang basudara,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar nilai “orang basudara” tidak berhenti sebagai jargon, tetapi terus ditanamkan dalam praktik hidup sehari-hari, terutama menghadapi kepentingan politik dan ekonomi yang berpotensi memecah belah.

Sorotan pada Media Sosial dan Generasi Muda

Dialog juga menyoroti perkembangan media sosial yang dinilai membawa dua sisi: memperkuat komunikasi sekaligus berpotensi memecah persaudaraan.

Para narasumber sepakat bahwa literasi digital dan penguatan karakter generasi muda menjadi kunci agar nilai “orang basudara” tetap hidup di ruang digital. Tantangan era digital menuntut kolaborasi pemerintah, tokoh agama, aparat, dan komunitas budaya untuk memastikan media sosial menjadi sarana edukasi, bukan provokasi.

Pentas Seni sebagai Simbol Harmoni

Rangkaian kegiatan dilanjutkan besok dengan Pentas Seni Budaya pada 28 Februari 2026 di Gong Perdamaian Dunia, Ambon. Pentas ini menampilkan tarian tradisional Maluku, musik etnik dan kontemporer, pembacaan puisi budaya, serta kolaborasi lintas komunitas dan lembaga keagamaan.

Peserta kegiatan terdiri dari pelajar SMA/SMK, mahasiswa, komunitas budaya, Yayasan Sagu Salempeng, serta Pamong Budaya BPK Wilayah XX Maluku.

Panitia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, Kementerian Kebudayaan, LPDP, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Festival Budaya “Katong Orang Basudara” diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang memperkokoh identitas kebudayaan Maluku yang inklusif dan harmonis, sekaligus membuktikan bahwa nilai persaudaraan tetap relevan sebagai fondasi pembangunan daerah di tengah dinamika zaman.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *