MM.COM, AMBON – 24 April 2026, Di balik riuh rendah panggung politik Maluku, terselip sebuah kisah tentang ketangguhan yang tenang namun menghujam. Ia bukan sekadar istri dari seorang Bupati, bukan pula sekadar ibu dari anak-anak yang kini menduduki kursi dewan. Ia adalah “Safitri Malik”, sosok perempuan yang membuktikan bahwa dapur, sumur, dan kasur hanyalah awal dari sebuah pengabdian yang jauh lebih besar.
Lahir di Ternate pada 15 September 1977, anak ketujuh dari tujuh bersaudara ini tumbuh dalam gemblengan kedisiplinan seorang ayah yang merupakan mantan Camat dan ketegasan seorang ibu. Baginya, kemandirian bukanlah pilihan, melainkan napas hidup yang ia hirup sejak kecil.
Siapa sangka, sosok yang awalnya mengaku sebagai “ibu rumah tangga murni” ini mampu bertransformasi menjadi politisi tangguh di DPRD Provinsi. Bagi Safitri, politik bukanlah panggung sandiwara, melainkan sebuah seni tentang “teori kemungkinan” dan gestur yang penuh dinamika.
“Politik itu menarik. Ada banyak hal yang tidak pasti, namun di situlah letak tantangannya,” ungkapnya dengan sorot mata penuh keyakinan.
Namun, kesuksesan suami yang pernah menjabat sebagai bupati Buru Selatan dua periode 2011-2016, 2016-2021, dan anak-anaknya di kancah politik baginya bukanlah sebuah kebetulan. Hal itu adalah buah “Demokrasi dari Rumah.” Di meja makan keluarga Malik, komunikasi politik mengalir layaknya air. Anak-anak tidak didikte, melainkan diajak berdialog, dilibatkan dalam pengambilan keputusan, dan diajarkan untuk menikmati proses, bukan hanya mengejar hasil.
Jejak politik “Akmal Soulisa” dan “Aris Soulisa” yang adalah belahan hati ke dua orang tua hebat adalah bukti. Berada di kursi legislatif merupakan manifestasi nyata dari warisan keteladanan orang tua mereka, “Safitri Malik” dan “Tagop Sudarsono Soulisa”. Ditempa oleh nilai-nilai pengabdian, keduanya kini berdiri tegak sebagai penerus amanah, membawa harapan besar masyarakat dengan dedikasi yang lahir dari kasih sayang dan didikan penuh ketangguhan keluarga.
Di tengah fenomena “bullying” dan sentimen negatif yang kerap menerpa perempuan yang berani tampil, Safitri memberikan pesan yang sangat mendalam dan menyentuh hati. Baginya, musuh terbesar perempuan terkadang adalah rasa tidak percaya diri atau sikap saling menjatuhkan antar sesama.
“Sesama perempuan jangan julid. Jangan saling menjatuhkan. Kadang, perempuan sendirilah yang melemahkan dirinya. Kita ini mampu, kita bisa, tapi seringkali kita sendiri yang menyudutkan sesama,” pesannya dengan nada getir.
Setiap kali tekanan datang atau fitnah menerpa, Safitri memilih untuk bersimpuh. Ia mengaku hanya mengadu kepada Tuhan, menyadari bahwa tidak semua telinga mau mendengar dengan tulus, dan tidak semua hati senang melihat keberhasilan orang lain. Namun, ia tak pernah menyimpan dendam. Baginya, kekalahan adalah guru, dan kemenangan orang lain adalah hal yang harus diikhlaskan.
Safitri menekankan bahwa menjadi wanita hebat di masa kini berarti harus berani mengambil peran. Ia memberikan analogi yang kuat: “Jemputlah bola, jangan menunggu !!!” Baginya, seorang perempuan harus aktif bergerak dan menunjukkan kapasitasnya agar dunia melihat bahwa identitas bukanlah penghalang untuk melayani.
Bagi Safitri Malik, sosok Hendrik Lewerissa adalah manifestasi dari integritas dan dedikasi tanpa batas. Terinspirasi oleh ketegasan sang Gubernur dalam membangun Maluku, Safitri menjadikan jejak kepemimpinan tersebut sebagai bahan bakar semangat untuk terus mengabdi dengan hati.
Baginya, jabatan hanyalah sebuah amanah, bukan soal suka atau tidak suka. Terutama saat ia mengenang masa-masa sulit memimpin sebagai Bupati di tengah hantaman badai COVID-19—sebuah memori yang hingga kini membuatnya terharu akan pentingnya sebuah ketulusan dalam melayani masyarakat.
Meski secara materi dan karier ia telah mencapai puncak—dengan anak-anak yang telah mandiri dan kehidupan yang berkecukupan—Safitri tetap memiliki sisi kemanusiaan yang sederhana. Ia masih bermimpi untuk melihat dunia, terbang ke Amerika atau Turki, bukan untuk kemewahan, melainkan untuk belajar bagaimana peradaban maju memperlakukan kehidupan.
Kini, Safitri Malik berdiri sebagai cermin bagi perempuan Maluku. Bahwa menjadi seorang ibu yang hebat tidak harus mengubur mimpi untuk menjadi pemimpin yang berdaulat. Ia adalah bukti nyata bahwa dari tangan seorang ibu yang mandiri, akan lahir generasi-generasi tangguh yang siap membangun negeri.
“Jangan menyerah, tunjukkan kemampuan kita, supaya orang tahu kita punya kapasitas,” tutupnya, sebuah kalimat yang menggema sebagai penyemangat bagi seluruh Kartini di Maluku dan Indonesia.(LD)








Komentar