oleh

Perjalanan Akademik Prof. Pieter Berujung Pengukuhan Guru Besar di Tanah Kepulauan

MM.COM, Ambon, 11 Februari 2026 – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Aula Rektorat Lantai 2 Universitas Pattimura (Unpatti), Rabu (11/2/2026), saat Prof. Dr. Ir. Pieter Thomas Berhitu, S.T., M.T. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik.

Pengukuhan dalam Rapat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Pattimura itu menjadi momentum bersejarah, bukan hanya bagi Prof. Pieter dan keluarganya, tetapi juga bagi dunia akademik dan pembangunan wilayah pesisir di Indonesia, khususnya Maluku sebagai provinsi kepulauan.

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Penataan Ruang Wilayah Pesisir Berbasis Zonasi sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan”, Prof. Pieter menegaskan bahwa wilayah pesisir tidak lagi dapat dipandang sebagai ruang pinggiran yang sekadar menjadi objek eksploitasi. Pesisir, menurutnya, adalah ruang strategis yang menentukan masa depan bangsa kepulauan seperti Indonesia.

“Wilayah pesisir adalah ruang transisi yang mempertemukan daratan dan lautan dalam satu kesatuan ekologis dan sosial. Ia strategis, tetapi sekaligus rentan. Karena itu, pengelolaannya harus berbasis ilmu pengetahuan dan berorientasi pada keberlanjutan,” tegasnya di hadapan jajaran pimpinan universitas, para guru besar, sivitas akademika, serta tamu undangan.

Zonasi sebagai Jalan Tengah Ilmiah dan Berkeadilan

Dalam pemaparannya, Prof. Pieter menjelaskan bahwa zonasi bukan sekadar pembagian ruang administratif, melainkan instrumen strategis yang mengintegrasikan dimensi ekologis, sosial, ekonomi, dan kelembagaan ke dalam satu kerangka spasial yang utuh.

Ia menyoroti realitas di banyak wilayah pesisir Indonesia yang kerap menjadi arena tumpang tindih kepentingan antara perikanan, industri, pariwisata, permukiman, hingga infrastruktur. Tanpa pengaturan yang jelas, konflik ruang dan degradasi lingkungan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

“Zonasi memungkinkan ruang dikelola sesuai daya dukung dan karakter ekologisnya. Dengan pendekatan ini, pembangunan ekonomi dapat berjalan, tetapi tetap dalam koridor perlindungan lingkungan dan keadilan sosial,” ujarnya.

Bagi Prof. Pieter, pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir hanya dapat diwujudkan jika kebijakan ruang disusun secara adaptif, berbasis riset, serta melibatkan masyarakat lokal yang selama ini hidup dan bergantung pada sumber daya pesisir.

Refleksi Perjalanan Akademik

Orasi ilmiah yang dibukukan sebagai bagian dari pengukuhan tersebut merupakan sintesis perjalanan panjang akademik Prof. Pieter mulai dari riset doktoral, publikasi ilmiah, hingga pengabdian kepada masyarakat di berbagai kawasan pesisir.

Dalam sambutan pengantarnya, ia menyampaikan bahwa jabatan Guru Besar bukanlah puncak pencapaian pribadi semata, melainkan amanah intelektual untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memastikan relevansinya bagi masyarakat.

“Pengukuhan ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga integritas ilmu, membangun tradisi akademik yang kuat, dan menghadirkan solusi bagi persoalan nyata pembangunan wilayah pesisir,” tuturnya dengan suara bergetar.

Ucapan terima kasih disampaikannya kepada pimpinan universitas, rekan sejawat, mahasiswa, serta keluarga tercinta yang menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan akademiknya. Momen tersebut menjadi semakin emosional ketika keluarga berdiri memberikan penghormatan, disambut tepuk tangan panjang hadirin.

Kebanggaan bagi Maluku dan Indonesia

Sebagai provinsi kepulauan dengan bentang laut yang luas, Maluku memiliki tantangan sekaligus peluang besar dalam pengelolaan wilayah pesisir. Pengukuhan Prof. Pieter dinilai sebagai kontribusi strategis dalam memperkuat fondasi keilmuan perencanaan wilayah yang kontekstual dengan karakter daerah kepulauan.

Rektor Universitas Pattimura dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran Guru Besar di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir menjadi energi baru bagi pengembangan riset dan kebijakan berbasis kelautan di Maluku.

“Ini adalah kebanggaan bagi Unpatti dan masyarakat Maluku. Keilmuan yang dibangun Prof. Pieter sangat relevan dengan karakter daerah kita sebagai wilayah kepulauan,” ungkapnya.

Pengukuhan ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat produksi pengetahuan yang tidak terpisah dari realitas sosial. Dari Ambon, gagasan tentang zonasi pesisir berbasis keberlanjutan kini mengalir sebagai kontribusi nyata bagi arah pembangunan nasional.

Di tengah tantangan perubahan iklim, kenaikan muka air laut, dan tekanan urbanisasi pesisir, pesan Prof. Pieter menjadi refleksi mendalam: bahwa masa depan wilayah pesisir Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian untuk merencanakan dengan ilmu, mengelola dengan bijak, dan membangun dengan hati.(LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *