MM.COM, JAKARTA — Di tengah bising dan megahnya megapolitan Jakarta, detak jantung persaudaraan sejati anak cucu Maluku tidak pernah pudar.
Mengalir dari rahim adat yang sama, masyarakat perantau Amarima Hatuhaha dan Pela Tuhaha Beinusa Amalatu yang berdiam di wilayah JABODETABEK, kembali mempertegas komitmen sakral mereka untuk merawat kedamaian, sekaligus berdiri kokoh mengawal roda pemerintahan Gubernur Maluku, “Hendrik Lewerissa”.
Komitmen luhur ini mengkristal dalam audiensi hangat penuh kekeluargaan antara panitia pelaksana “Silaturahmi Akbar Masyarakat Hatuhaha-Tuhaha se-Jabodetabek” dengan jajaran Badan Penghubung Provinsi Maluku di Mess Maluku, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Mengusung tema puitis dan mendalam, “Baringin Alaka Sombar Orang Basudara” dan sub tema “Perkuat Silaturahmi dengan Semangat Kebersamaan dan Kekeluargaan”.
Pertemuan ini bukan sekadar koordinasi formal, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk menyatukan barisan anak rantau.
Menjaga Jakarta Tetap Adem: Janji Setia Anak Adat.
Ketua Panitia Penyelenggara, “Handry Noya”, yang memimpin langsung delegasi tersebut, menegaskan bahwa menjaga kedamaian di tanah rantau adalah cerminan dari martabat orang Maluku yang menjunjung tinggi adat saling menghargai. Bagi perantau Hatuhaha-Tuhaha, menjaga Jakarta tetap kondusif adalah sumpah yang tidak tertulis namun tertanam dalam hati.
“Kami masyarakat Hatuhaha-Tuhaha akan terus membantu dan mendukung semua program dan kebijakan Pemerintahan Provinsi Maluku. Apa yang diharapkan, terutama dalam menjaga kondusivitas masyarakat Maluku di Jakarta, kami siap,” tutur Handry dengan nada bicara yang tegas namun penuh ketulusan.
Dukungan ini menjadi angin segar bagi pembangunan Maluku secara menyeluruh.
Para perantau sepakat bahwa stabilitas keamanan di ibu kota adalah fondasi penting untuk menyokong kebijakan Gubernur Hendrik Lewerissa dalam membangun seluruh pelosok bumi seribu pulau tersebut.
Kabar Sukacita dari Pusat: Menghapus Air Mata Korban Konflik.
Pertemuan ini kian bermakna ketika Kepala Badan Penghubung Provinsi Maluku di Jakarta, “Saipul Patta”, membagikan sebuah kabar yang menggetarkan hati. Sebuah perjuangan kemanusiaan yang sunyi namun gigih tengah dilakukan oleh Gubernur “Hendrik Lewerissa” langsung ke jantung pemerintahan pusat.
Lobi intensif sang Gubernur ke Kementerian Perumahan dan Pemukiman berbuah manis. Jerit dan kerinduan ratusan warga korban konflik untuk memiliki hunian yang layak akhirnya dijawab oleh negara.
Pemerintah pusat telah mengetuk palu untuk merealisasikan pembangunan rumah bantuan pada Tahun Anggaran 2027 mendatang.
Sentuhan kepedulian pemerintah daerah ini akan menyasar beberapa titik krusial yang sempat terluka oleh sejarah:
– Desa Kariuw: 210 Unit
– Desa Iha: 100 Unit
– Ohoi Danar: 87 Unit
– Desa Masihulan: 78 Unit
Merawat Kedamaian di Kampung Halaman, Membuka Pintu Kesejahteraan.
“Saipul Patta”, yang saat itu didampingi oleh Kepala Sub Bidang Antar Lembaga, “Alvian Bachmid”, menitipkan pesan emosional yang mendalam bagi seluruh perantau. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengingatkan betapa mahalnya harga sebuah konflik.
Selama ini, anggaran daerah yang seharusnya bisa dipakai untuk menyekolahkan anak-anak yatim, membangun puskesmas, dan memperbaiki jalan di desa-desa terpencil, terpaksa harus dialihkan (refocusing) hanya untuk membiayai dampak sosial akibat pertikaian.
“Marilah kita jaga kondusivitas Maluku. Di tengah efisiensi anggaran pemerintah pusat yang sangat ketat saat ini, pemerintah daerah di bawah koordinasi Bapak Gubernur akan tetap memberikan perhatian maksimal sepanjang kemampuan anggaran yang ada. Jika Maluku aman, maka sejahteralah kita semua,” ungkap Patta dengan penuh harap.
Menuju Cibubur: Bakumpul Par Baku Sayang.
Sebagai puncak dari ikatan batin ini, acara “Silaturahmi Akbar Masyarakat Hatuhaha-Tuhaha se-Jabodetabek” dijadwalkan akan menghentak Bumi Perkemahan Cibubur pada “6 Juni 2026” mendatang.
Bukan sekadar ajang seremonial, momentum di Cibubur nanti diproyeksikan menjadi wadah “baku rangkul”, mengikis habis segala potensi gesekan, dan mempererat sumpah persaudaraan (Maningkamu Amarima dan Pela Beinusa Amalatu) yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak berabad-abad lalu.
Karena pada akhirnya, di bawah payung “Baringin Alaka”, semua anak cucu Hatuhaha merindukan satu hal: Mempererat sumpah persaudaraan menuju Maluku yang damai, Maluku yang maju, dan Maluku yang bermartabat. (LD)














Komentar