
MM.COM, Ambon – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menegaskan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Maluku tetap stabil dan menunjukkan tren pertumbuhan positif. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan “OJK Maluku BaSTORI (Berbagi Cerita)” bersama para jurnalis media online Kota Ambon yang berlangsung di Kafe Red Break, Karpan, Ambon, Rabu (11/3).
Kegiatan yang mengusung tema “Sektor Jasa Keuangan Maluku yang Stabil dan Kontributif Mendukung Pendalaman Pasar dan Perekonomian Nasional” ini dibuka langsung oleh Kepala OJK Provinsi Maluku, “Muhammad Andi Yusuf”, serta menghadirkan sejumlah narasumber dari industri jasa keuangan, di antaranya “Amrin Budiman” dari Bank Syariah Indonesia (BSI), “Aris Kurniadi” dari Pegadaian Syariah, serta “Novian Suhardi”, Kepala Sub Bagian Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen serta Layanan Manajemen Strategi OJK Maluku.
Dalam sambutannya, Muhammad Andi Yusuf menyampaikan bahwa kegiatan BaSTORI merupakan agenda rutin OJK untuk berbagi informasi dan perkembangan terbaru sektor jasa keuangan kepada media.
“Kegiatan ini menjadi wadah bagi kami untuk berbagi perkembangan industri jasa keuangan di Maluku, termasuk pelaksanaan tugas OJK dalam literasi, inklusi keuangan, serta perlindungan konsumen,” ujarnya.
Menurutnya, secara umum perekonomian Provinsi Maluku pada tahun 2025 masih tumbuh positif dengan angka “4,56 persen”, meskipun sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran “5,1 persen”.
Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh sejumlah sektor utama seperti “pertanian, perikanan, perkebunan, perdagangan, serta anggaran pendapatan belanja pemerintah daerah” melalui APBD.
Dari sisi industri jasa keuangan, sektor perbankan di Maluku juga mencatatkan kinerja yang positif. Penyaluran kredit perbankan tumbuh hampir “5 persen”, sementara pertumbuhan aset perbankan mencapai sekitar “8 persen” dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang masih terjaga di level “2,92 persen”.
Selain itu, penyaluran “Kredit Usaha Rakyat (KUR)” pada tahun 2025 tercatat lebih dari “Rp1 triliun” dengan jumlah debitur mencapai sekitar “21.804” pelaku usaha, sebagian besar berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
OJK juga mendorong peningkatan penyaluran kredit pada tahun 2026 agar dapat melampaui capaian tahun sebelumnya.
Sementara itu, sektor keuangan syariah di Maluku menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Pembiayaan perbankan syariah tercatat tumbuh sekitar “20,54 persen”, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan.
Meski demikian, pangsa pasar perbankan syariah di Maluku masih relatif kecil, yakni sekitar “3–4 persen” dari total aset perbankan daerah yang mencapai sekitar “Rp34 triliun”.
“Walaupun market share-nya masih kecil, pertumbuhan pembiayaan syariah cukup tinggi dan tingkat pembiayaan bermasalahnya juga sangat rendah, bahkan di bawah satu persen,” ungkap salah satu narasumber dari Pegadaian Syariah, “Aris Kurniadi”.
Di sektor industri jasa keuangan non-bank, OJK juga mencatat peningkatan aktivitas pasar modal dengan pertumbuhan jumlah investor mencapai “21,6 persen”. Selain itu, sektor “pinjaman daring (peer-to-peer lending)” mencatat sekitar “33 ribu peminjam” dengan tingkat risiko pembiayaan yang sangat rendah, yakni “0,01 persen”.
Program pembiayaan lainnya seperti “PNM Mekar” juga terus berkembang dengan jumlah nasabah mencapai sekitar “53 ribu orang” dan total pembiayaan hampir “Rp300 miliar”.
Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Maluku, “Novian Suhardi”, menjelaskan bahwa salah satu tantangan pengembangan keuangan syariah di Maluku adalah keterbatasan jaringan layanan yang masih terkonsentrasi di beberapa wilayah seperti “Ambon, Masohi, dan Bula”.
“Jumlah kantor lembaga keuangan syariah masih terbatas. Oleh karena itu, kami mendorong pengembangan agen bank agar layanan keuangan bisa menjangkau masyarakat hingga ke daerah-daerah,” ujarnya.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan syariah, OJK juga menggelar berbagai kegiatan edukasi melalui program “Gerakan Nasional Literasi Keuangan Syariah (Gerak Syariah)” selama bulan Ramadan.
Program tersebut meliputi berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk pelajar, serta lomba-lomba literasi keuangan syariah agar masyarakat lebih memahami produk dan layanan keuangan berbasis syariah.
Melalui kolaborasi antara OJK, industri jasa keuangan, dan media, diharapkan sektor jasa keuangan di Maluku dapat terus berkembang dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.(LD)








Komentar