oleh

GenBETA, Langkah Taman Budaya Maluku Menjawab Tantangan Pelestarian Seni di Era Generasi Baru

MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 11 Agustus 2025 – Taman Budaya Provinsi Maluku kembali menghadirkan Pameran Seni Rupa 2025 dengan mengusung tema GenBETA: Berkarya, Eksploratif, Tangguh, Aktif. Pameran ini menjadi ruang apresiatif bagi seniman lokal, sekaligus bentuk tanggung jawab terhadap pelestarian seni dan budaya Maluku di tengah arus modernisasi yang semakin deras.

Prihe Letlora, S.S., M.Hum., selaku Pelaksana Tugas Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya Taman Budaya Provinsi Maluku, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kerja berkelanjutan lembaganya dalam memajukan kebudayaan, sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Penerima manfaat dari kegiatan di Taman Budaya ini mencakup anak-anak sekolah hingga masyarakat umum. Tujuan utama kami adalah membina kepekaan generasi muda terhadap seni dan budaya Maluku,” ujar Letlora saat didampingi Ketua Panitia Pameran, Dounald E. Peea.

Tema “GenBETA” diangkat sebagai bentuk refleksi atas munculnya generasi baru yang lahir antara tahun 2025 hingga 2050. Letlora menjelaskan bahwa kata “beta” memiliki tiga makna penting dalam konteks ini:

1. “Beta sebagai generasi baru”, yaitu mereka yang akan mendominasi kehidupan sosial dan budaya hingga pertengahan abad ke-21.
2. “Beta sebagai identitas Maluku”, mengedepankan jati diri lokal melalui penggunaan kata “beta” yang bermakna “saya” dalam bahasa daerah.
3. “Beta sebagai akronim” dari nilai-nilai penting: Berkarya, Eksploratif, Tangguh, dan Aktif.

Ruang Seni dan Ekonomi Kreatif

Selain memfasilitasi pameran, Taman Budaya juga memberikan ruang bagi pelaku seni rupa untuk memasarkan karya mereka secara langsung kepada pengunjung.

“Kami hanya menampilkan karya, tapi perupa diberi kebebasan untuk menjual. Seluruh keuntungan dari penjualan adalah milik mereka,” tambah Letlora.

Tantangan dan Harapan.

Meski antusiasme masyarakat tinggi, Letlora mengakui bahwa kegiatan masih terfokus di Kota Ambon. Ia berharap ke depannya akan ada “Pekan Kebudayaan Daerah” yang menjangkau seluruh kabupaten/kota dan menjadi ajang seleksi menuju “Pekan Kebudayaan Nasional (PKN)”

Kegiatan edukatif juga terus digencarkan melalui program “Training of Trainers” (ToT) bagi guru pembina seni serta pelatihan intensif bagi pelajar dan mahasiswa. Salah satu contohnya adalah kegiatan “Kemah Budaya”, yang mengajarkan tentang budaya dan sastra secara langsung kepada generasi muda.

Suara Anak Muda: Tenun Tanimbar dan Kekhawatiran Generasi

Dalam semangat pelestarian budaya, Jecklin Malihu, seorang petenun muda asal Tanimbar, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap minimnya generasi muda yang terlibat dalam warisan budaya tenun.

“Sekarang anak-anak muda susah mau belajar bikin tenunan, Kebanyakan itu orang tua. Takutnya kalau orang tua sudah lanjut usia mereka sudah berhenti dan tidak mampu kerja tenunan bahkan sudah tidak ada lagi, siapa yang akan teruskan?” ujar Jecklin.

Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap pelatihan-pelatihan tenun bagi anak muda serta dukungan terhadap pelaku usaha kecil agar tenun lokal bisa berkembang dan membanggakan Maluku di tingkat nasional.

Melalui pameran dan rangkaian kegiatan lainnya, Taman Budaya Provinsi Maluku berupaya menjawab tantangan zaman: membumikan seni dan budaya lokal di tengah gempuran digitalisasi serta membangun ruang partisipatif bagi generasi muda sebagai penjaga warisan budaya masa depan. (LD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *