MM.COM, AMBON – Transformasi digital pendidikan di Kota Ambon memasuki babak krusial. “Yayasan Arika Mahina”, bekerja sama dengan ‘The HEAD Foundation’ dan Dinas Pendidikan Kota Ambon, menggelar agenda penting bertajuk “Refleksi Implementasi Pembelajaran Digital Sekolah Enuma Fase 4” di Amaris Hotel, Rabu (22/4/2026).

Kegiatan yang dihadiri 51 peserta dari kalangan Kepala Sekolah dan guru pendamping, Ini bukan sekadar seremoni, Ini adalah ruang bedah strategi atas penggunaan Sekolah Enuma—aplikasi yang telah mendampingi siswa PAUD hingga SD kelas awal di Ambon dalam mengasah literasi, numerasi, dan bahasa Inggris.

Ketua Dewan Pembina “Yayasan Arika Mahina”, “Ir. Maris Hetharia, MA”, dalam narasi pembukanya menegaskan bahwa meski Fase 4 merupakan fase terakhir kerja sama dengan donor internasional, eksistensi pendampingan tidak akan berhenti.
“Fase ini memang fase tahun terakhir kerjasama dengan The HEAD Foundation, namun Yayasan Arika Mahina tetap akan bermitra. Kami tidak hanya bicara soal literasi dan numerasi, tapi juga pemenuhan hak anak dan perlindungan dari kekerasan,” ujar “Ir. Maris Hetharia, MA”.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan utama program ini bukanlah pada kucuran dana, melainkan pada jejaring kerjasama yang telah terbentuk.
“Jejaring ini adalah sumber daya nyata untuk kita saling membantu dan membuka peluang bagi kemajuan pendidikan di Ambon ke depan,” tambahnya.

Nada kritis muncul dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, “Drs. F. F. Taso, M.Si.” Saat membuka acara, ia memaparkan data rapor pendidikan 2025 yang dirilis tahun ini. Meski literasi SMP naik signifikan, literasi dan numerasi tingkat SD justru menunjukkan tren penurunan.
“Literasi kita hanya naik di angka koma. Ingat, orang kalau kena koma itu pingsan. Kita tidak boleh terjebak di level itu. Kita butuh strategi perubahan yang nyata,” tegasnya.
Beliau juga memberikan ‘sentilan’ keras terkait ketergantungan anak pada perangkat digital. Mengacu pada riset Wakil Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains, “Prof. Stella Christie”, Kadis Pendidikan memperingatkan bahwa aplikasi yang terlalu memanjakan anak dengan jawaban instan bisa mematikan kemampuan berpikir sistematis.
“Anak-anak memang senang dengan visual Sekolah Enuma, tapi waspada terhadap ketergantungan tinggi. Jangan sampai kemampuan berpikir kritis mereka rendah. Digitalisasi harus dibarengi metode non-digital agar anak tetap kreatif dan mampu melahirkan ide-ide orisinal,” lanjutnya.

Sebagai langkah konkret, “Drs. F. F. Taso, M.Si.” menyoroti Surat Edaran tahun 2025 yang membatasi penggunaan “gadget” di sekolah. Strategi ke depan akan difokuskan pada model pembelajaran yang melatih anak berpikir mandiri melalui riset-riset sederhana dan penulisan paper tingkat dasar.
Acara diawali dengan khidmat melalui doa yang dibawakan oleh “Ibu Min Tupamahu” salah satu peserta sekolah PAUD Aurora, membawa harapan besar agar kolaborasi antara “Yayasan Arika Mahina” dan pemerintah daerah mampu mencetak generasi emas 2045 yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga tajam secara logika dan nurani .(LD)














Komentar