MANGGUREBEMAJU.COM, Ambon, 9 Oktober 2025 – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon terus mengukuhkan komitmennya dalam menyiapkan lulusan unggul melalui penguatan kurikulum berbasis “Outcome-Based Education” (OBE). Hal ini ditegaskan dalam Lokakarya Kurikulum yang digelar pada 9 Oktober 2025, sebagai bagian dari respons terhadap kebijakan nasional, termasuk Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 dan Permendikbudristek Saintek Nomor 39 Tahun 2024.
Ditemui usai kegiatan, Wakil Dekan Bidang Akademik FPIK Unpatti, Dr. Ir.Simon Tubalawony, M.Si., menjelaskan bahwa proses penyusunan kurikulum ini telah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, dimulai dengan diskusi intensif bersama para pemangku kepentingan melalui forum FGD (Focus Group Discussion).
“Kami mengundang berbagai pihak yang berkepentingan dari dunia usaha, dunia industri, alumni, pemerintah, hingga praktisi akademik untuk bersama-sama merumuskan kebutuhan nyata dunia kerja dan perkembangan keilmuan,” ungkapnya.
Menurutnya, masukan dari stakeholder telah menjadi dasar penting dalam penyusunan kurikulum baru oleh enam program studi yang ada di FPIK. Hasil rancangan tersebut kemudian kembali diuji dalam FGD lanjutan yang digelar hari ini, untuk memastikan keselarasan dengan kebutuhan pasar kerja, standar nasional, hingga daya saing global.
“Tujuan akhir kami jelas: menghasilkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tapi juga mampu melanjutkan pendidikan dan mengembangkan ilmu perikanan dan kelautan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Tegak di Atas Rambu Regulasi dan Standar Mutu
Tubalawony menekankan bahwa penyusunan kurikulum tidak keluar dari koridor regulasi nasional maupun kebijakan internal kampus. Selain mengacu pada peraturan pemerintah, FPIK juga memegang teguh keputusan forum akademik serta standar mutu internal universitas.
“Setelah FGD, kami lakukan koordinasi internal bersama jurusan dan program studi di bawah bidang akademik. Hasilnya akan dirumuskan ulang dan kemudian dibawa ke rapat senat fakultas sebelum disahkan secara resmi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan dasar-dasar keilmuan, terutama bagi program studi yang meskipun berbasis agroindustri, tetap berada dalam rumpun ilmu alam.
“Kompetensi dasar seperti pemahaman terhadap fenomena alam laut tetap penting, sehingga mata kuliah dasar sains tetap kita pertahankan untuk membentuk kemampuan berpikir ilmiah mahasiswa,” jelasnya lagi.
FPIK Siap Menuju Fakultas dengan Seluruh Prodi Terakreditasi Unggul
Prestasi FPIK Unpatti tak dapat dipandang sebelah mata. Dari enam program studi yang ada, lima di antaranya telah meraih predikat akreditasi “Unggul” predikat tertinggi dalam sistem akreditasi nasional saat ini, menggantikan predikat “A”.
“Kalau prodi terakhir yang belum divisitasi juga meraih unggul, maka FPIK akan menjadi satu-satunya fakultas di Unpatti dengan semua program studi terakreditasi unggul. Ini capaian yang sangat membanggakan,” kata Tubalawony dengan optimisme.
Tak hanya di level S1, capaian akreditasi unggul juga telah diraih oleh program magister (S2) Ilmu Kelautan FPIK. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di fakultas ini sudah melampaui standar nasional dan layak bersaing di level internasional.
Mahasiswa FPIK Unpatti Menembus Dunia Global
Lebih lanjut, Tubalawony menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas mahasiswa di luar kelas. Ia mengungkapkan, mahasiswa FPIK aktif mengikuti berbagai program mobilitas internasional seperti Pertukaran Mahasiswa Merdeka, magang luar negeri di Malaysia dan Singapura, hingga studi lanjut S2 ke Korea dan Jepang serta Belanda.
“Mahasiswa kami juga menerima mahasiswa dari luar negeri untuk belajar di sini. Mereka sangat antusias karena bisa belajar langsung dari ekosistem laut yang ada di Maluku,” ujarnya.
Sejak 2016, FPIK telah menjadi bagian dari program unggulan nasional yang mendorong internasionalisasi pendidikan. Hal ini membuka ruang besar bagi mahasiswa untuk menimba ilmu dan pengalaman di kancah global.
Menatap Masa Depan: Menjaga Mutu, Menyongsong Tantangan
“Menjadi unggul itu satu hal, tapi menjaga keunggulan adalah tantangan yang lebih besar,” tegas Tubalawony menutup pernyataannya. Menurutnya, pengembangan kurikulum menjadi kunci dalam mempertahankan mutu pendidikan tinggi, terlebih dalam menyongsong era kerja global dan revolusi industri kelautan. (LD)








Komentar