MM.COM, Ambon, 13 Mei 2026 — Penulis: Alfian Hulihulis
Rakyat Batabual, Kabupaten Buru, kembali menjerit. Jalan provinsi penghubung Batabual–Namlea rusak parah bertahun-tahun, namun Pemerintah Provinsi Maluku dinilai hanya sibuk mengumbar janji tanpa tindakan nyata.
Lubang besar, lumpur, hingga sungai tanpa jembatan membuat masyarakat harus mempertaruhkan nyawa demi sekolah, berobat, dan mencari makan. Perjalanan yang seharusnya 1 jam kini berubah menjadi 4 sampai 8 jam penuh penderitaan.
Ironisnya, di tengah kekayaan alam Pulau Buru yang terus diambil, rakyat Batabual justru dibiarkan hidup dalam keterisolasian. Anak-anak sekolah terancam putus pendidikan karena akses yang memprihatinkan.
“Kami sudah bosan dengan janji politik. Jalan rusak, jembatan tidak ada, rakyat menderita, tapi pemerintah seolah tutup mata,” tegas Alfian Hulihulis.
Masyarakat menilai pemerintah lebih cepat mengambil hasil alam Buru daripada menyelamatkan rakyatnya sendiri. Jika tidak segera ada pembangunan nyata, warga Batabual memastikan gelombang protes akan kembali meledak lebih besar.
Jangan sampai sejarah mencatat: rakyat Batabual hancur bukan karena kemiskinan, tetapi karena pemimpin yang terlalu banyak bicara dan minim tindakan. (Tim)








Komentar