MM.COM, JAKARTA – Angin rantau boleh saja membawa anak-anak Maluku melangkah jauh, namun magnet adat dan ikatan rahim leluhur selalu punya cara untuk memanggil mereka bersatu.
Sebuah komitmen luhur untuk meneguhkan kembali sendi-sendi dalam pertemuan bersama, dilakukan lewat kehangatan antara Panitia Pelaksana “Silaturahmi Akbar Masyarakat Hatuhaha-Tuhaha se-Jabodetabek” dengan jajaran Badan Penghubung Provinsi Maluku di Mess Maluku Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Bukan sekadar urusan koordinasi birokrasi yang kaku, audiensi ini menjelma menjadi getaran nurani untuk merapatkan barisan di tanah perantauan.
Mengangkat tema filosofis yang menyentuh Persaudaran “Baringin Alaka Sombar Orang Basudara” dengan sub-tema “Perkuat Silaturahmi dengan Semangat Kebersamaan dan Kekeluargaan”, agenda ini menjadi simbol lahirnya tempat bernaung yang teduh bagi seluruh anak adat di ibu kota.
Janji Setia Anak Adat: Menjaga Jakarta Tetap Adem.
Ketua Panitia Penyelenggara “Handry Noya”, yang memimpin langsung pertemuan tersebut, menegaskan bahwa merawat kedamaian di tanah rantau adalah pembuktian harga diri orang Maluku yang memegang teguh prinsip hidup “Orang Sudara”.
Bagi masyarakat perantau Hatuhaha-Tuhaha, menjaga Jakarta tetap kondusif bukan lagi sekadar imbauan, melainkan sebuah sumpah tertulis terpatri di dalam dada.
“Katong menjaga kondusivitas Jakarta. Supaya katong bisa cari makan baik-baik, semua bisa hidup baik-baik,” ujar Handry Noya dengan tegas melalui wawancara via WhatsApp.
Momentum Cibubur: Saatnya Baku Polo dan Buang Sengketa.
Kerinduan kolektif yang telah lama terpendam ini dipastikan akan memuncak dalam “Silaturahmi Akbar Masyarakat Hatuhaha-Tuhaha se-Jabodetabek” yang siap digulirkan di Bumi Perkemahan Cibubur pada “6 Juni 2026” mendatang.
Pertemuan akbar ini dirancang melampaui batas seremonial biasa. Momentum di Cibubur diproyeksikan menjadi ruang sakral untuk “baku polo” (berpelukan), mengubur dalam-dalam segala potensi gesekan, meluruskan salah paham, serta menyalakan kembali api sumpah persaudaraan(“Maningkamu Amarima dan Pela Beinusa Amalatu”) yang telah diwariskan lintas generasi sejak berabad-abad lalu.
Kembali ke Rahim Kebersamaan.
Sebagai catatan sejarah yang tak boleh dilupakan, Amarima hatuhaha merupakan satu ikatan rahim suci (Maningkamu) dari lima negeri, yaitu “Hulaliu, Pelau, Rohomoni, Kabau, dan Kailolo”.
Bergerak dari kesadaran kolektif yang bergelora di setiap paguyuban negeri tersebut di Jakarta, seluruh anak cucu perantau sepakat untuk berhimpun dan merangkul saudara “Pela” mereka, Tuhaha (Benusa Amalatu tuhaha).
Ini adalah pesta besar kumpul masyarakat Amarima hatuhaha dan Tuhaha di ibu kota.
“Harapan Katong di ajang silaturahmi ini, katong samua bakudapa dan bakumpul. Katong hilangkan samua mungkin ada gesekan-gesekan kecil, ada salah paham-salah paham yang lalu. Katong hilangkan semua, Katong tinggalkan hari kemarin dengan ikhlas dan lapang dada. Menuju masa depan yang lebih baik for katong punya anak cucu.” ungkap Handry dengan narasi yang menggugah.
Hajatan besar ini juga akan menjadi panggung bertemunya para tokoh dan sesepuh penting dari Amarima hatuhaha serta Benusa Amalatu tuhaha yang telah sukses mengambil peran strategis di negeri masing-masing.
Melalui perhelatan 6 Juni nanti, seluruh anak perantau diajak berjalan beriringan, melangkah dengan kepala tegak dan hati yang bersih, membuktikan bahwa ikatan darah Maluku adalah perekat abadi yang tak tertandingi. (LD)














Komentar