MM.COM, AMBON – Di balik dinding ruang perawatan yang dingin, Weyber Pagaya harus menelan pil pahit berkali-kali. Bukan hanya karena melihat buah hatinya terbaring lemah tak berdaya, namun juga karena merasa dikepung oleh narasi yang menurutnya jauh dari kenyataan.
Dengan suara bergetar namun tegas, Weyber akhirnya angkat bicara untuk meluruskan simpang siur pemberitaan mengenai kondisi anaknya yang menjadi korban kecelakaan melibatkan oknum institusi militer.
Surat di Depan Ruang PICU: “Saya Panik dan Tertekan
Weyber mengisahkan kembali momen memilukan pada 10 Maret 2026. Di depan ruang PICU lantai 3, saat pikirannya hanya tertuju pada nyawa anaknya yang sedang kritis, ia disodorkan surat kesepakatan kekeluargaan.
“Saya menandatangani surat itu dalam kondisi panik dan tertekan. Saat itu, bahkan tidak ditanya apa keinginan saya sebagai orang tua,” ungkap Weyber.
Meski pihak terkait sempat datang dua kali untuk memperbaiki kesalahan penulisan nama pada surat tersebut, Weyber dengan tegas menolak menandatangani ulang. Ia merasa hak-haknya sebagai orang tua korban terabaikan demi formalitas perdamaian.
CCTV Mengubah Segalanya.
Titik balik perjuangan Weyber terjadi pada 12 Maret 2026, ketika rekaman CCTV ditemukan. Fakta yang tersaji di layar kaca itu menghancurkan hatinya: anaknya bukan sekadar mengalami kecelakaan biasa, melainkan dilindas oleh pelaku.
“Setelah jelas di CCTV pelaku melindas anak saya, maka pelaku maupun instansi harus tetap bertanggung jawab,” tegasnya.
Namun, proses pencarian keadilan ini juga menyisahkan trauma baru. Weyber menyesalkan tindakan petugas yang membangunkan anaknya yang baru saja selesai operasi sekitar pukul 22.00 WIT hanya untuk dimintai keterangan.
“Anak saya masih kesakitan, baru selesai operasi, tapi harus dipaksa bangun larut malam. Di mana rasa kemanusiaannya?” Ungkapnya.
Bantahan Keras: “Anak Saya Belum Bisa Berjalan!”
Weyber juga meluapkan kekecewaannya terhadap pihak Humas Pendam. Ia membantah keras klaim yang menyebutkan anaknya sudah pulih dan bisa berjalan.
“Jangan menyesatkan publik. Sampai detik ini, anak saya belum bisa berjalan. Untuk duduk dan berdiri saja harus dibantu karena kondisinya sangat lemah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti berat badan anaknya yang turun drastis serta adanya pergeseran tulang pangkal paha pasca-operasi.
Ironisnya, permintaan bantuan pengadaan tempat tidur pasien yang diajukan selama hampir tiga minggu hingga kini hanya menjadi janji yang belum terealisasi.
Monitoring yang Terasa Semu
Terkait klaim monitoring dari pihak Kodam, Weyber merasa hal tersebut hanyalah sekadar formalitas administratif.
“Memang ada kunjungan, tapi sebatas datang, ambil foto, dan tanya kondisi untuk laporan ke atasan. Kami belum merasakan dampak nyata. Kalau memang monitoring, seharusnya mereka tahu apa yang kami butuhkan tanpa kami harus terus meminta,” keluhnya.
Mengetuk Pintu Pimpinan Tertinggi,
Rasa putus asa membawa Weyber menghubungi Letjen TNI Richard Tampubolon (Kasum TNI) melalui pesan singkat pada 9 April lalu. Meski mendapat respons simpati, Weyber masih menunggu langkah nyata dari petinggi TNI di Jakarta maupun di daerah.
Weyber kini menuntut pernyataan resmi dari institusi sebagai jaminan masa depan anaknya, yang mencakup:
– Pengobatan jangka panjang hingga sembuh total.
– Pendampingan menyeluruh dalam koordinasi medis.
– Jaminan pendidikan dan masa depan** sang anak yang kini masa depannya terancam akibat insiden tersebut.
“Pernyataan ini saya sampaikan demi keadilan. Anak saya adalah korban, dan saya hanya meminta tanggung jawab yang manusiawi,” tutupnya.(*














Komentar