MM.COM, AMBON, – Sejumlah pasar yang telah dibangun oleh Pemerintah Kota Ambon hingga kini belum dapat difungsikan secara optimal. Lokasi yang tidak strategis serta sulitnya akses transportasi menjadi faktor utama masyarakat maupun pedagang enggan beraktivitas di pasar-pasar tersebut.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kota Ambon, “Drs. Herman S. Tetelepta, M.Si”, mengungkapkan bahwa beberapa titik seperti Pasar Air Low, Pasar Wainitu, Pasar Air Kuning, hingga Pasar Nania masih menghadapi kendala serius terkait efisiensi biaya bagi konsumen.
Kendala Biaya dan Akses Jalan
Menurut Tetelepta, masyarakat lebih memilih berbelanja di Pasar Mardika atau Batu Merah meski jaraknya lebih jauh. Hal ini dikarenakan biaya transportasi yang jauh lebih murah.
“Di Air Low, masyarakat menghitung kalau ke Mardika hanya keluar biaya Rp5.000-Rp7.000. Sementara ke pasar lokal di Air Low, karena tidak ada trayek angkutan tetap, mereka harus naik ojek dengan biaya mencapai Rp15.000. Dari sisi efisiensi, pasar besar tetap lebih menguntungkan bagi mereka,” ujar Tetelepta saat diwawancarai di Pemkot Ambon, Rabu (15/4/2026).
Kondisi serupa terjadi di Pasar Wainitu. Meski bangunan sudah siap, akses jalan masuk terhambat karena warga harus melewati kawasan Ruang Terbuka Publik (RTP) terlebih dahulu untuk mencapai lokasi pasar.
Upaya Koordinasi dan Potensi Trayek Baru
Menyikapi hal ini, Disperindag telah melakukan koordinasi lintas sektor dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, camat, hingga lurah dan kepala desa. Tujuannya adalah untuk mendorong warga setempat agar mau mengisi lapak dan meramaikan aktivitas perdagangan.
Terkait keluhan transportasi, Tetelepta menjelaskan bahwa ketiadaan trayek angkutan saat ini karena belum adanya aktivitas pasar yang konsisten.
“Jika pasar sudah aktif dan kegiatan perdagangan mulai stabil, kami bisa mendorong adanya “trip” angkutan yang melewati jalur tersebut. Masalahnya sekarang, karena belum aktif, angkutan pun belum sampai ke wilayah pasar,” jelasnya.
Belum Lirik Potensi Pasar Ikan Khusus
Saat disinggung mengenai potensi Pasar Air Low untuk dijadikan pusat penjualan ikan—mengingat kedekatannya dengan lokasi pendaratan ikan di Seri—Tetelepta menyatakan pihaknya belum memiliki rencana ke arah sana.
Ia menegaskan bahwa fokus penjualan ikan saat ini masih terpusat di Pasar Ikan Arumbae. Selain masalah zonasi, fasilitas pengolahan limbah menjadi pertimbangan utama.
“Penjualan ikan itu harus memperhatikan sistem pembuangan limbahnya. Jangan sampai kita masukkan pedagang ikan, tapi infrastruktur limbahnya tidak memadai. Jadi untuk saat ini, rencana itu belum ada,” tutupnya. (LD).








Komentar