
MM.COM, AMBON – Suasana haru menyelimuti kawasan Benteng Atas (Bentas), Ambon, pada Senin sore (20/4). Di sebuah ruang tamu sederhana, sebuah komitmen kemanusiaan yang melampaui sekat kedinasan terukir. Pangdam XV/Pattimura, “Mayjen TNI Dody Triwinarto”, secara resmi menyatakan akan mengangkat “Shakira K.Pagaya (14)”, siswi SMP korban kecelakaan truk militer, sebagai anak angkatnya.
Langkah ini diambil Pangdam setelah mendengar langsung jeritan hati ibunda Kia, “Mariska Muskitta”, yang mencemaskan masa depan putrinya pasca-insiden tragis 6 Maret lalu.
Bagi Mayjen Dody Triwinarto, keputusan ini bukan sekadar formalitas pejabat. Ia mengaku merasakan kepedihan yang sama sebagai seorang ayah.
“Saya ikhlas menjadikan Kia sebagai anak angkat saya. Dia bagian dari keluarga saya. Saya bisa membayangkan kalau ini terjadi pada anak saya sendiri, kebetulan anak kandung saya juga perempuan semua,” ujar Pangdam dengan nada bergetar.
Dengan status baru ini, Kia kini memiliki jaminan penuh dari sang Jenderal, meliputi:
– Perlindungan Moral: Keamanan dan pendampingan psikologis bagi Kia.
– Jaminan Pendidikan: Komitmen untuk memastikan masa depan sekolah Kia tetap terjaga meski kondisi fisiknya belum pulih total.
– Pengawalan Medis: Jaminan pengobatan hingga tuntas tanpa batas waktu.
Menanggapi kondisi Kia yang masih sering merasakan nyeri panggul hebat, Pangdam menegaskan bahwa Kodam XV/Pattimura tidak akan pernah lepas tangan. Jika fasilitas medis di Ambon menemui jalan buntu, Pangdam sudah menyiapkan skenario terbaik.
“Kami siapkan opsi rujukan ke “RSPAD Gatot Subroto di Jakarta”. Kita akan upayakan kesembuhan total bagi Kia,” tegasnya. Beliau juga memberikan akses komunikasi langsung bagi keluarga jika ditemukan kendala dalam proses pemulihan.
Meski mengedepankan pendekatan humanis, Mayjen Dody menunjukkan jiwa ksatrianya dengan memohon maaf secara terbuka atas keterlambatan respons awal institusi di lapangan. Ia mengakui adanya kendala teknis, namun menegaskan bahwa tanggung jawab tidak akan pernah dihindari.
Di sisi lain, Pangdam memastikan bahwa jalur hukum tetap tegak lurus. Proses hukum terhadap sopir truk militer tersebut saat ini tengah berjalan di “Pomdam XV/Pattimura”. Kunjungan yang didampingi Asisten Intelijen dan Polisi Militer ini menjadi bukti bahwa Kodam menyeimbangkan antara tanggung jawab hukum dan rasa kemanusiaan yang mendalam.
Pertemuan sore itu diakhiri dengan tangis haru dari kedua orang tua Kia, Mariska dan Weyber Pagaya. Beban berat yang mereka pikul sendirian selama sebulan terakhir seolah terangkat.
Bagi Kia, kehadiran sang Pangdam adalah suntikan semangat baru. Kini, siswi kelas IX tersebut tidak lagi berjuang sendirian di atas tempat tidur; ia memiliki “bahu” seorang Jenderal untuk bersandar menuju kesembuhan.(*








Komentar