MM.COM, Ambon, 11 Februari 2026 – Aula Rektorat Lantai 2 Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menjadi saksi momen bersejarah yang sarat haru dan kebanggaan, Rabu (11/2/2026). Di hadapan Sidang Senat Terbuka, Prof. Wilma Latuny, S.T., M.Si., M.Phil., Ph.D. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan. Ia tercatat sebagai profesor perempuan pertama di Fakultas Teknik Unpatti, sebuah capaian monumental yang menginspirasi generasi muda Maluku, khususnya kaum perempuan di bidang sains dan teknologi.

Pengukuhan tersebut dihadiri Gubernur Maluku, pimpinan DPRD, Wali Kota Ambon, unsur Forkopimda, pimpinan perguruan tinggi se-Kota Ambon, jajaran senat dan pimpinan Unpatti, serta keluarga dan kolega akademik. Suasana khidmat bercampur bangga menyelimuti ruangan ketika Prof. Wilma menyampaikan orasi ilmiahnya.
Dalam pidato berjudul “Kecerdasan Buatan sebagai Sistem Pendukung Keputusan dalam Pembangunan Industri Wilayah Kepulauan”, Prof. Wilma menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan paradigma baru dalam sistem pengambilan keputusan yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
“Persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada keterbatasan sistem pengambilan keputusan, integrasi rantai pasok, dan pengelolaan ketidakpastian yang bersifat geografis dan struktural,” tegasnya.
Menjawab Tantangan Industri Kepulauan
Sebagai akademisi yang lahir dan bertumbuh dalam realitas Maluku, Prof. Wilma memotret secara jujur tantangan pembangunan industri di wilayah kepulauan. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan potensi kelautan yang melimpah, Indonesia sejatinya memiliki kekuatan ekonomi besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah industri yang berkelanjutan.
Di Maluku, misalnya, sektor perikanan, pertanian, pariwisata, dan sumber daya laut menyimpan peluang luar biasa. Sayangnya, kontribusi industri pengolahan masih relatif rendah akibat tingginya biaya logistik, fragmentasi rantai pasok, keterbatasan infrastruktur, serta rendahnya adopsi teknologi.
“Dalam sistem industri kepulauan yang kompleks dan penuh ketidakpastian ‘mulai dari cuaca, jarak distribusi yang panjang, hingga keterbatasan infrastruktur’, pengambilan keputusan berbasis intuisi semata tidak lagi memadai,” ujarnya.
AI sebagai Augmented Intelligence
Menurut Prof. Wilma, AI bukan sekadar teknologi canggih, melainkan pendekatan baru dalam memperkuat kapasitas manusia. Ia menekankan konsep “augmented intelligence”, di mana teknologi hadir untuk mendukung, bukan menggantikan manusia.
AI, jelasnya, mampu mengolah data dalam skala besar, mengenali pola nonlinier yang sulit dideteksi manusia, serta menghasilkan rekomendasi berbasis probabilitas dan prediksi. Dalam konteks industri kepulauan, AI dapat berfungsi sebagai “Decision Support System” (DSS) yang membantu pengambilan keputusan di tengah keterbatasan geografis dan ketidakpastian lingkungan.
Ia memaparkan sejumlah implementasi yang telah dikembangkan di Maluku, termasuk sistem berbasis pembelajaran mesin untuk penilaian kualitas rumput laut dan produk perikanan. Teknologi ini membantu menentukan harga secara lebih objektif dan transparan, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
“Fokus kami bukan pada kompleksitas algoritma, tetapi pada penyelesaian persoalan kontekstual industri kepulauan,” tegasnya.
Peran Strategis Teknik Industri
Dalam orasinya, Prof. Wilma juga menyoroti peran penting Teknik Industri sebagai jembatan antara teknologi, manusia, dan sistem. Integrasi AI ke dalam sistem industri dinilai akan memperkuat tridarma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan.
Pengukuhan ini sekaligus menjadi penanda komitmen Universitas Pattimura dalam mendorong transformasi digital dan riset yang berpijak pada kebutuhan daerah. Kehadiran Guru Besar AI di Fakultas Teknik menjadi tonggak penting dalam pengembangan keilmuan yang relevan dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.
Menutup orasinya, Prof. Wilma mengutip Amsal 4:7, “Permulaan hikmat adalah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh perolehlah pengertian.” Ia berharap pengembangan kecerdasan buatan dijalankan dengan hikmat, kerendahan hati, dan tanggung jawab demi kemajuan industri nasional.
Pengukuhan Prof. Wilma Latuny bukan hanya capaian akademik personal, melainkan simbol kebangkitan intelektual perempuan di dunia teknik dan teknologi Maluku. Dari Ambon, pesan itu menggema: kecerdasan buatan bukan sekadar masa depan, tetapi kunci percepatan pembangunan industri kepulauan Indonesia.(LD)








Komentar