oleh

ASRI–SELFINUS, Titik Kulminasi Demokrasi Rakyat Seram Bagian Barat

Manggurebemaju.com, Seram Bagian Barat (SBB) kini berada pada titik kulminasi demokrasi rakyat. Pemilihan Kepala Daerah lalu melahirkan pasangan ASRI–SELFINUS sebagai Bupati dan Wakil Bupati, sebuah mandat sah yang diputuskan lewat mekanisme demokrasi langsung: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat—sebagaimana pesan abadi Abraham Lincoln.

Kemenangan ASRI–SELFINUS adalah buah suara rakyat, dan karena itu pula rakyatlah yang menjadi rahim demokrasi. Maka, sudah menjadi kewajiban moral masyarakat SBB untuk mendukung kinerja pemimpin yang kini diberi amanah. Dukungan rakyat bukan sekadar legitimasi, melainkan bagian dari tanggung jawab kolektif dalam mengawal pembangunan dan memastikan pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, serta berpihak pada kepentingan orang banyak.

Pemimpin bukan sekadar produk prosedur politik, melainkan juga manusia pilihan yang dititipkan Tuhan untuk mengurus hajat hidup orang banyak. Oleh sebab itu, ASRI–SELFINUS hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan figur yang harus melakukan terobosan nyata demi kemajuan SBB yang lebih harmonis.

Rakyat berhak memberi masukan, saran, bahkan kritik, tetapi harus dengan semangat membangun. Kritik yang lahir dari ego, intrik, dan sentimen sempit hanya akan menjadi racun demokrasi. Rakyat SBB harus rasional, objektif, dan dewasa dalam menyikapi perbedaan politik, bukan menjadi korban provokasi kelompok-kelompok yang kalah dalam kontestasi.

Sejak lama, isu “pemimpin harus lahir dari rahim negeri” dijadikan alat propaganda. Faktanya, SBB adalah rumah bersama: negeri dan Buton adalah satu tubuh. Menolak salah satunya sama saja dengan menolak sejarah penyatuan daerah ini. Catatan sejarah membuktikan, bupati-bupati terdahulu yang lahir dari negeri pun tidak mampu mendorong percepatan pembangunan secara signifikan. Maka, isu negeri–Buton hanyalah intrik murahan yang dijajakan oleh kelompok-kelompok perusak.

Demokrasi Indonesia tidak menolak perbedaan. Semua anak bangsa setara di mata hukum, dan SBB seharusnya menjadi contoh kematangan politik itu.

Pilkada yang lalu adalah refleksi demokrasi. Dari proses itulah rakyat menentukan pilihannya, dan hasilnya jelas: ASRI–SELFINUS menang. Maka sudah semestinya yang kalah legowo, bergabung dalam struktur pembangunan daerah, dan bersama-sama memajukan SBB secara konvergen serta komprehensif.

Opini-opini liar yang menyerang bupati dan wakil bupati hari ini tidak lebih dari pelampiasan kekecewaan pihak yang tak siap menerima kekalahan. Mereka menciptakan narasi provokatif, membangun opini tidak ilmiah, dan menyebarkan isu tak berdasar demi menggiring emosi masyarakat. Padahal, kekuasaan yang lahir dari niat buruk hanya akan melahirkan korupsi dan kehancuran, sebagaimana diingatkan para pemikir klasik seperti Machiavelli, Jean Bodin, dan Thomas Hobbes.

SBB tidak boleh menjadi korban provokasi. Rakyat harus belajar dari daerah lain yang tetap damai dan sejahtera karena rakyatnya menolak politik adu domba. Persaudaraan harus diutamakan, kebohongan harus ditolak, dan sentimen sempit harus dilawan.

Seperti semboyan Revolusi Prancis: Liberty, Equality, Fraternity. SBB hanya akan maju jika menjunjung kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Tutupnya: ASRI–SELFINUS adalah pilihan rakyat. Mereka adalah pemimpin sah yang harus bekerja secara arif, bijaksana, terbuka, dan melibatkan rakyat dalam setiap kebijakan. Rakyat SBB wajib mengawal, memberi saran, dan mendukung, bukan terjebak dalam intrik provokatif yang melemahkan demokrasi.

Karena hanya dengan satu hati, satu pikiran, dan satu tekad bersama rakyat serta pemerintah, Seram Bagian Barat akan bangkit menuju keadilan dan kesejahteraan.

(Halim Hitimala – Anak Adat Seram Bagian Barat)

(*

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *